Ello si Media Sosial Idealis dan Logika Traction

ello manifesto

Untaian kalimat radikal di atas tak lain dan tak bukan adalah manifesto milik sebuah media sosial baru bernama Ello. Media sosial selama ini kita kenal direpresentasikan oleh Facebook, Twitter, Path, dan Instagram membuat konsep media sosial terkesan indah, bahagia, dan optimis. Tiba-tiba sebuah media sosial baru menjadi hip dengan manifestonya yang sesungguhnya adalah common sense yang tidak jadi common-common amat ketika kita lebih suka hanya bergaul dan bereksis ria di media sosial. Media yang mengatakan bahwa ‘you are not a product’, dan mereka ingin menciptakan sebuah ruang publik dimana kita bisa berhubungan tanpa dijual demi kepentingan bisnis periklanan.

Valid-kah argumen Ello dalam manifestonya? Mari kita lihat cari insight dari data pendapatan iklan yang dimiliki oleh Facebook dan Twitter dan pengembangan interface dan user experience yang mereka lakukan untuk pengembangan iklan.

Lihat infografik menarik ini tentang evolusi media sosial dari segi iklan dan investasi http://mashable.com/2014/10/03/state-of-advertising-infographic/

Dimulai di tahun 2007, Facebook membuka fitur Fanpage untuk perusahaan. Tahun 2010, Twitter memulai fitur Promoted Tweet. 2011 Twitter memulai platform analisisnya sendiri yang artinya Twitter semakin serius dalam memahami profil user mereka. Di tahun yang sama Facebook memulai fitur Sponsored Stories. Tahun 2012 diwarnai dengan IPO-nya Facebook, meresmikan kerajaan bisnis internasional Facebook. Twitter IPO di tahun 2013. Dan di tahun 2013 Pinterest memulai fitur Promoted Pins, Instagram memulai Sponsored Posts, dan Linkedin memulai Sponsored Updates.

Selama kuarter II 2013 hingga kuarter II 2014, Facebook mengalami kenaikan pendapatan iklan sebanyak 67% dari sekitar $1,5 milyar menjadi $2,68 milyar. Sementara Twitter baru mencapai $277 juta. 83% dari Fortune Top 100 Brands memiliki kehadiran di Facebook. 74% online retailers memiliki akun Twitter. Bagaimana dengan Google? $17,47 milyar pendapatan iklan di tahun 2013.

Data-data tersebut sangat jelas bukan?

baby controlled by brand

Traction

Media sosial dan iklan, not surprisingly, berjalin berkelindan begitu erat. Juga sesungguhnyaapps, situs, dan semua ruang publik digital yang mengundang banyak pengunjung dan user. Iklan adalah hantu, dan traction adalah jimat pemanggil hantu.

Traction adalah logika yang sangat akrab bagi para penggiat start-up. Aplikasi atau website diukur dari kekuatan traction mereka: apakah banyak user yang mendaftar, atau banyak visitor yang mengunjungi. Traction menjadi bagian penting dari business process sehingga dianggap sebagai data paling penting untuk dipresentasikan pada investor.

Entah bagaimana, itulah yang acap kali menjadi mindset dari startup. Bahwa menciptakan website atau aplikasi yang terpenting adalah berhasil menemukan target audience terbaik, dengan niche yang tepat yang dapat divaluasi dari besarnya traction. Bukan bisnis konvensional seperti yang kita kenal yang menjual langsung barang dan mendapat keuntungan dari pengunjung yang bertransaksi, (kebanyakan) mindset perusahaan startup adalah menjual ruang publik, ruang nyaman bagi orang untuk mengekspresikan kesukaan, eksistensi, dan lain sebagainya. Sehingga jargon yang paling sering diulang oleh para mentor startup adalah produk harus menjadi solusi dan divalidasi oleh target audience.

What’s in it for the investor? Tentu saja semakin berkualitas traction yang ada baik dari segi angka dan persona yang dimiliki maka semakin berharga valuasi potensi pasarnya untuk gaining influence dan beriklan. Semakin banyak user semakin efektif jangkauan iklan dan pengaruh. Semakin spesifik karakter user semakin besar nilai konversi yang dapat dihasilkan karena ketepatan target audience (misal berjualan sepatu bola di website sepak bola). Data ini juga dapat dihubungkan dengan jaringan iklan seperti Google Display Network yang mengambil data sebanyak-banyaknya dan membuat algoritma agar iklan selalu sampai pada orang yang tepat dan lebih mungkin untuk di-klik.

traction growth untuk startup

Inilah yang menjelaskan kenapa Facebook sangat unggul dalam social media ads. Facebook memiliki data demografis yang sangat detil dan user paling banyak. Di Facebook para pemasang iklan dapat menyasar usia, lokasi, minat, hingga jenis kelamin yang dielaborasi datanya oleh pengawasan terhadap user behaviour dalam Facebook. Bahkan lebih jauh Facebook telah menyatakan akan menguntit aktivitas user-nya di luar Facebook melalui button Facebook seperti ‘Like’, ‘Share’ dan ‘Connect with Facebook’ yang berada di mungkin hampir 100% situs di dunia.

Inilah juga mengapa statistik dan data analysis menjadi semakin penting di Twitter, Pinterest, dan Instagram. Agar pemahaman akan audience semakin berkualitas dan iklan semakin tepat sasaran. Dan ini juga yang mungkin menjadi alasan mengapa setelah IPO iklan semakin intens di media sosial – agar dana investasi segera membuahkan hasil.

Begitu kawan. Data kita dijual di media sosial. Aktivitas kita dipantau habis-habisan dimulai dari situs yang kita kunjungi hingga setiap langkah check-in­ kita di berbagai tempat. Dunia kita dikuasai oleh normalisasi dan kenyamanan masuknya iklan. Satu sisi sepertinya menjadi konsep yang sangat menarik bahwa kita tidak diganggu oleh iklan: kita hanya melihat iklan  yang sepertinya kita ‘suka dan butuh’. Di sisi yang lain, iklan akan menjadi realitas sehari-hari kita dan seiring jargon ‘convert’ para marketers kita akan dibuat sedemikian rupa untuk mengonsumsi produk mereka.

Threat or Opportunity?

Mungkin buat mereka yang kurang cocok dengan konsumerisme, injustice capitalism, dan ekses sosial-lingkungan-kultural (yang demi Allah sudah nyata adanya tolong jangan cuma bawa angka pertumbuhan ekonomi lagi akhi) akan kurang suka dan skeptis.

Apa pendapatmu?

Advertisements

Selamat Mengutip yang Baik

Untuk yang mau tau referensi pengutipan 

Ada tiga sistem di pdf ini, gaya Harvard, Chicago, sama Student Citation System.

Ini dapet di kampus, lupa yang nulis siapa, jelas bukan saya.

Pengutipan Harvard, Chicago, SCS

Susahnya bikin makalah ilmu sosial yang tanpa penelitian itu bukan susah bikin tulisan ngasalnya biar dapet nilai B s/d A, tapi memastikan tulisan itu secara keilmuan tepat, secara pengetahuan memproduksi hal baru, secara data baik, dan lain-lain yang dituntut standard-standard saintifik. Kalau nggak ada penelitian lapangan, nggak ada sumber data primer, harus banyak kutipan yang multiperspektif dan bener-bener tergabung dengan landasan konseptual. Maksudnya, ambil landasan dan perspektif yang sesuai panggilan hati, dan cari data-data yang banyak dan dari berbagai sumber untuk bisa buktikan ketepatan perspektif. Kalau nulis makalah cuma pakai perasaan, nulis blog aja.

Penting banget. Data-data yang signifikan dan nggak umum harus pakai kutipan. Data umum misal Indonesia merdeka 17 Agustus nggak perlu dikutip, tapi misal Bung Karno salto tanggal 16 Agustus harus dikutip karena itu nggak umum dan signifikan! Pendapat orang yang kita baca dan apalagi yang jelas semacam kesimpulan atau analisis dia atas sebuah peristiwa jelas juga harus dikasih kutipan. Misalnya bilang kalau Indonesia merdeka karena pengaruh konspirasi y*****, atau perbudakan di Arab didukung oleh Islam.. KALAU NGGAK PAKAI KUTIPAN YAKINLAH ITU PERASAAN. Kutipannya juga nggak bisa cuma satu, dua, tiga, empat, karena sejarah biasanya ditulis sesuai perspektif dan kepentingan penulis. Kalau teori, pilih panggilan hati, tapi logika dan asalnya juga harus jelas. “Semua filsafat benar, tinggal liat aja mana yang banyak pengikutnya.”

Selamat mengutip yang baik, yang banyak, yang diniatkan dengan ikhlas demi kemajuan ilmu pengetahuan

Sistem Hukou dan Ketimpangan Sosial di China

Image 

Sistem Hukou di China adalah sistem pendataan dan kontrol penduduk yang telah ada di China semenjak zaman kekaisaran hingga pemerintahan Republik Rakyat China, dimana semenjak 1950 telah menjadi fondasi bagi ‘institutional exclusion’ berdasarkan tempat tinggal (desa dan kota) bagi 1,3 milyar penduduk China saat ini.[2] Sayangnya, dengan konsentrasi industrialisasi di kota yang menyebabkan perekonomian tumbuh pesat disana, penduduk desa kesulitan hidup dengan layak sehingga mendorong mereka untuk bermigrasi. Sistem Hukou ini adalah instrumen penting yang menyebabkan ketimpangan sosial di China dan harus direvisi. Logika otoritarian, kesalahan strategi pembangunan, dan sumber korupsi yang masih dilestarikan oleh sistem Hukou menjadi argumen bagi kebutuhan untuk merevisi sistem ini.

Saat ini di China terjadi ketimpangan luar biasa antara penduduk desa dan kota. Saat penduduk kota memiliki disposable income rata-rata tahunan sebesar 19,100 Yuan, penduduk desa hanya memiliki 5,900 Yuan atau kurang lebih hanya sepertiga penduduk kota.[3] Sangat wajar mengingat konsentrasi industri di kota-kota yang sangat signifikan menyusul reformasi ekonomi China pasca-Mao.

Sistem Hukou moderen sendiri memang ditetapkan pada masa Mao di tahun 1950. Sistem ini sangat wajar mengingat urbanisasi yang berbahaya kerap terjadi di negara berkembang dan menyebabkan sulitnya kontrol terhadap pembangunan ekonomi di kota sehingga menimbulkan masalah sosial yang kronis. Saat itu sistem diterapkan dengan strategi pembangunan dengan pembuatan commune di desa sehingga diharapkan pembangunan di desa akan pesat.[4] Yang tidak wajar adalah ketimpangan  yang terjadi setelahnya ketika Hukou sangat membatasi kesempatan pemilik Hukou desa untuk bekerja di kota dengan fasilitas dan gaji maksimal. Dan lagi perubahan kebijakan pada masa Deng Xiaoping tidak diimbangi dengan perubahan kebijakan kependudukan yang dibutuhkan. Disaat mobilisasi dibutuhkan untuk mengisi strategi industrialisasi kota dengan mengandalkan kekuatan buruh China di pabrik-pabrik, Hukou justru bersifat kontraproduktif dengan menahan migrasi penduduk dari desa ke kota. Sementara itu investasi agrikultur di desa juga menurun hingga hanya di bawah 10% pada tahun 2004.[5]

Kekakuan dalam sistem Hukou yang menyebabkan masalah dalam migrasi tenaga kerja tampaknya disebabkan oleh logika yang kurang tepat dalam administrasi kependudukan di China. Sistem Hukou China sebagaimana dideskripsikan dalam Regulation on Household (Hukou) Registration of the People’s Republic of China adalah sistem untuk manajemen populasi dan administrasi sosial penduduk China yang memiliki fungsi unik seperti kontrol administratif migrasi, manajemen penduduk dan pengunjung sementara, dan manajemen zhongdian renkou (orang-orang diawasi).[6] Menariknya, sistem administrasi penduduk sipil ini berada langsung dibawah Kementrian Keamanan Publik (Ministry of Public Security) meskipun China sendiri memiliki Kementerian Urusan Sipil dan Kementerian Perumahan dan Pembangunan Desa-Kota.[7]

Logika otoritarian di China memasukkan Hukou dibawah pengawasan Kementrian Keamanan Publik mungkin disebabkan oleh fungsi Hukou sebagai pendataan warga negara sehingga sangat erat dengan kepentingan intelijen seperti pengawasan penduduk dan pengunjung. Dengan Hukou dan khususnya zhongdian renkou, pemerintah China dan khususnya kepolisian dan Kementrian Keamanan Publik yang menangani langsung Hukou mampu mengawasi secara ketat mobilitas penduduk termasuk dalam mengidentifikasi identitas penduduk yang asing dan mencurigakan. Sayangnya Hukou sesungguhnya lebih erat dengan kepentingan ekonomi ketika industrialisasi sangat gencar dijalankan China. Sistem Hukou yang ketat justru menghambat mobilisasi tenaga kerja dan justru memunculkan bibit korupsi dengan masuknya kepentingan keamanan dan intelijen dengan kepentingan ekonomi.

Pada dasarnya memang bukan tidak mungkin terjadi perpindahan dan penggantian Hukou dari desa ke kota, ataupun dari kota ke desa. Akan tetapi proses yang dibutuhkan sangatlah rumit, berjenjang, dan mahal. Seorang migran membutuhkan transfer dari Hukou aslinya ke Hukou untuk migran, dilanjutkan dengan izin relokasi Hukou, dan kemudian mengurus izin di kantor polisi tujuan relokasi Hukou. Meski demikian terdapat batasan dalam jumlah pemiliki Hukou di sebuah kota.

Kesulitan izin ini hadir menjadi masalah seiring dengan diskriminasi bagi pemegang Hukou yang menguntungkan pemilik Hukou kota. Ketimpangan yang tinggi, pusat perekonomian dan lapangan kerja di kota, diiringi fasilitas yang baik dari pendidikan hingga kesehatan di kota mendorong banyak penduduk desa China untuk bermigrasi dan merelokasi Hukou mereka. Demand yang tinggi ini (hingga lebih dari tiga ratus juta orang melakukan urbanisasi[8]) tidak dipenuhi oleh supply yang cukup sehingga memunculkan paksaan terhadap peningkatan supply yang muncul dalam bentuk korupsi. Korupsi ini muncul pada proses izin relokasi Hukou di kantor-kantor polisi. Meskipun biaya relokasi Hukou telah diatur, beberapa kota besar bahkan memaksakan biaya hingga sebesar lima puluh ribu Yuan pada tahun 1990an.[9]

Permasalahan migrasi desa-kota, logika otoritarian pada sistem Hukou, dan korupsi yang disebabkan oleh sistem Hukou telah menunjukkan bahwa sistem Hukou berkontribusi terhadap tumbuhnya ketimpangan sosial di China. Atas dasar tersebut sistem Hukou sebagai sistem administrasi kependudukan yang tadinya memiliki tujuan yang baik secara logika pembangunan tetapi kemudian berdampak buruk harus direvisi dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi serta kebutuhan mendasar penduduk China. Perbaikan sistem Hukou dapat membantu mengatasi masalah ketimpangan sosial di China antar desa-kota yang sudah sangat kronis.

Daftar Pustaka

 

Buku

 

Fishman, T.C., China Inc. How the Rise of the Next Superpower Challenges America and The World, edisi Bahasa Indonesia China Inc. Bagaimana Kedigdayaan China Menantang Amerika dan Dunia, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006

Park, A. ‘Rural-Urban Inequality in China’, dalam S. Yusuf dan T. Saich, China Urbanizes: Consequences, Strategies, and Policies, The World Bank, Washington, 2008, hlm. 41-63

Wang, F.L., Organizing Through Exclusion and Divison: China’s Hukou System, Stanford University Press, California, 2003

Sumber Internet

 

Artikel

D. Tobin, D. ‘Inequality in China: Rural Poverty Persists as Urban Wealth Baloons’, BBC News, 29 Juni 2011, http://www.bbc.co.uk/news/business-13945072 diakses 14 Januari 2013

Mirsky, J., ‘The China We Don’t Know’, The New York Review of Books, <http://www.nybooks.com/articles/archives/2009/feb/26/the-china-we-dont-know/> diakses 14 Januari 2013

Laman Website

http://english.gov.cn/links.htm


[1] Oleh Ivan Nashara, Mahasiswa Hubungan Internasional UGM, untuk memenuhi tugas pengganti UAS mata kuliah Politik dan Pemerintahan China Semester Ganjil 2012

[2]F. L. Wang, Organizing Through Exclusion and Divison: China’s Hukou System, Stanford University Press, California, 2003

[3] D. Tobin, ‘Inequality in China: Rural Poverty Persists as Urban Wealth Baloons’, BBC News, 29 Juni 2011, http://www.bbc.co.uk/news/business-13945072 diakses 14 Januari 2013

[4]J. Mirsky, ‘The China We Don’t Know’, The New York Review of Books, <http://www.nybooks.com/articles/archives/2009/feb/26/the-china-we-dont-know/> diakses 14 Januari 2013

[5]A. Park, ‘Rural-Urban Inequality in China’, dalam S. Yusuf dan T. Saich, China Urbanizes: Consequences, Strategies, and Policies, The World Bank, Washington, 2008, hlm. 55

[6] F. L. Wang, hlm. 63

[7] Lihat http://english.gov.cn/links.htm yang berisi daftar kementrian di pemerintahan China

[8] T. C. Fishman, China Inc. How the Rise of the Next Superpower Challenges America and The World, edisi Bahasa Indonesia China Inc. Bagaimana Kedigdayaan China Menantang Amerika dan Dunia, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006, hlm. 32

[9] F. L. Wang, hlm. 83

Wanita di Afrika Melawan Laki-laki, Masyarakat, dan Si Dunia

Suatu saat ketika naik motor dan melewati RnB Steak menuju jalan magelang saya berpikir hal yang tidak ada hubungannya dengan keadaan sekitar: mana bisa orang nulis di blog kalau di jalan pikirannya tugas kuliah, mana bisa karena tidak ada momen reflektif dan pemaknaan kehidupan sehari-hari yang tergantikan pikiran akan tugas. Lalu kata orang yang saya bonceng: ya tugasnya yang jadi isi blognya.

Dan ya begini.

.

.

.

Wanita di Afrika Melawan Laki-laki, Masyarakat, dan Si Dunia

Peta Afrika dari Lonely Planet

Fakta terepresinya wanita di Afrika di segala bidang sudah jelas: hampir di setiap negara egalitarianisme gender menjadi sesuatu yang abstrak, tak diakui secara hukum maupun  budaya, dan kegiatan menginjak-injak kemanusiaan atas nama apapun yang bisa digunakan telah tersistematisasi. Dari Kenya sampai Afrika Selatan sekalipun, masa-masa poskolonial hingga abad ke-21 masih mempertontonkan bagaimana wanita dilucuti standard-standard manusia pada dirinya hingga mereka terdorong sebagai kaum termiskin, tersakit, terbodoh, dan terlemah.

Namun meneliti melebihi fakta mainstream, satu-dua peristiwa di Afrika memberikan sinyal-sinyal perubahan sekaligus kemungkinan memaksakan perubahan di Afrika. Dari beberapa peristiwa yang terjadi di beberapa tempat di Afrika, dapat disaksikan bagaimana fakta mainstream penjajahan wanita mulai tergusur oleh upaya para wanita itu sendiri untuk hidup lebih baik. Dan ada pula peristiwa yang memberikan pelajaran dimana titik penting perubahan harus dibuat untuk memastikan hidup yang lebih baik bagi para wanita Afrika.

Kebangkitan Pekebun Wanita Gambia

Richard Schroeder, seorang peneliti di Gambia, menemukan peristiwa unik yang akan memberikan pandangan positif mengenai kemungkinan wanita untuk ‘melawan’ dominasi kultural-struktural pria sebagai awalan dari kembalinya kemanusiaan bagi wanita Afrika. Di Gambia selama kurang lebih 20 tahun terjadi evolusi struktur ekonomi pada keluarga komunitas masyarakat Kerewan, di sebelah utara Gambia.

Tahun 1970, Kerewan masih merupakan sebuah daerah didominasi rawa dengan sejumlah kecil penduduk yang bertani dan para wanitanya merawat kebun-kebun kecil dengan vegetasi tomat, bawang, dan kentang. Pasar masih belum hidup, dan para wanita ini menjual hasil kebun mereka pintu ke pintu di wilayah luar Kerewan. Semua berubah ketika pada tahun 1970an Women In Development masuk ke wilayah Kerewan dan membantu perkembangan usaha para wanita itu.

Berkebun merupakan pekerjaan tradisional wanita Kerewan. Meskipun hasilnya belum signifikan, mereka membantu penghasilan para kaum pria. WID (dan bantuan-bantuan lain) membantu para wanita ini untuk mengembangkan kebun mereka dengan pembelian bibit hingga pembangunan sumur dan irigasi. Hasilnya, meskipun di tahun 1970 hanya ada sekitar 30 wanita yang aktif sebagai petty-bourgeoise di kebun mereka yang kecil, pada tahun 1991 (berdasarkan sensus Schroeder), telah terdapat sekitar 540 pekebun wanita yang sukses menjadi kekuatan ekonomi baru Kerewan dan Gambia.

Wanita Kerewan yang pakaiannya warna-warni

Faktanya, di tahun 1991 terdapat 47% wanita Kerewan yang menghasilkan uang lebih banyak dari pada suaminya. 56% dari mereka mengklaim telah setidaknya membeli satu kantung beras untuk keluarganya. 95% telah membeli pakaian sendiri dan perabotan rumah. Dan 80% telah membantu membeli peralatan upacara keluarga mereka.

Fakta tidak mainstream di Afrika ini telah mengubah banyak struktur keluarga pada masyarakat Kerewan. Pada tahap pertama perkembangan usaha berkebun mereka, para wanita Kerewan terlibat perang mulut dengan para suami tentang menjadikan kebun sebagai ‘suami kedua’ mereka yang menunjukkan bagaimana struktur yang tadinya memaksa wanita hanya bergantung kepada suami menjadi lebih mandiri dan digdaya dengan berkebun. Pada tahap berikutnya, wanita-wanita Kerewan dengan kemampuan finansial mereka telah berhasil masuk dalam perbincangan keuangan keluarga dan punya kemampuan menentukan alokasi dana dan sebagian dari mereka bahkan mampu meminjamkan suami mereka uang.

Dekapitalisasi Wanita Kenya

Di saat wanita Gambia (lebih tepatnya Kerewan) mulai mendapatkan hak-hak suprastrukturnya setelah berhasil mengakumulasi kapital lewat upaya berkebun, wanita Kenya mengalami dekapitalisasi signifikan. Mereka kehilangan semuanya sampai yang paling privat: harta, kesempatan politik, dan harga diri. Begitu mudah bagi siapa saja di Kenya untuk mengambil harta dan memperlakukan seenaknya seorang wanita yang telah kehilangan suaminya entah lewat proses cerai ataupun kematian. Saat suami tiada, ipar mereka biasanya akan mengambil semua milik keluarga mereka seperti rumah, kendaraan, tanah. Dan dengan kebiasaan ‘pembersihan’ mereka memaksa wanita itu untuk melakukan ‘hubungan luar nikah’ dengan orang lain. Dari kebiasaan itu HIV/AIDS tumbuh subur di kalangan wanita Kenya.

Wanita di Kenya kebal hukum dan pasal-pasal konvensi internasional. Tidak ada aturan tertulis dari konstitusi Kenya hingga perjanjian internasional yang bisa membuat mereka terlindung dari praktik-praktik dehumanisasi. Wanita Kenya yang dipaksa pergi dari rumah dan tinggal di jalanan tersebut tidak pernah mendapat bantuan dari pemimpin adat lokal ataupun pemerintah untuk dapat hidup lebih baik. Urusan-urusan undang-undang yang akan mengintervensi kejahatan penduduk terhadap yang lain dan kejahatan kebudayaan terhadap kemanusiaan tidak pernah selesai di kantor-kantor pemerintah dan nasib wanita Kenya dilempar ke dunia rimba manusia.

“Wanita di Kenya seperti yang lainnya di Afrika berpengaruh besar di bidang pertanian”

 

Padahal, tanpa bermaksud menomerduakan masalah kemanusiaan, dekapitalisasi wanita Kenya ini berpengaruh besar pada ekonomi dan pembangunan di Kenya yang sampai sekarang masih luar biasa miskin. Wanita di Kenya seperti yang lainnya di Afrika berpengaruh besar di bidang pertanian. Dilemparnya mereka dari kemampuan berproduksi dan berkarya telah menghambat pertumbuhan rata-rata negara itu sendiri. Atas nama tidak ingin mengintervensi kebudayaan, pemerintah Kenya mengabaikan kemajuan dan kemanusiaan. Culture is an opium.

 

 

 

Apa Wanita di Afrika Bisa Melawan Dominasi Koersif Laki-laki?

Kedua kisah di atas punya inspirasi masing-masing terhadap upaya liberasi wanita Afrika. Mereka memberikan contoh peristiwa di tingkat yang berbeda dan memiliki kesamaan topik: kekuatan ekonomi wanita dan pengaruhnya pada suprastruktur di atasnya.

Pada kisah wanita Gambia yang perkasa, dapat dilihat perubahan pada tingkat akar rumput masyarakat Afrika. Wanita dapat memulai sebuah upaya bottom-up untuk meningkatkan kekuatan mereka secara sosial ekonomi. Melalui aktivitas produksi dan penguasaan atas sumber daya keuangan wanita Gambia mampu hidup lebih baik dan lebih aman dibandingkan sesama gendernya di tempat-tempat lain di Afrika.

Sementara kisah wanita Kenya menggambarkan bagaimana dehumanisasi wanita didukung oleh kegagalan sistem yang lebih makro untuk melindungi wanita. Pemerintah dan struktur kekuasaan di masyarakat Kenya tidak memiliki keberpihakan terhadap nasib wanita. Tidak ada penegakan konstitusi atau perjanjian yang ter-ratifikasi dari pemerintah. Tidak ada upaya top-down untuk membantu menyelesaikan masalah wanita dari pemegang otoritas.

Kedua kisah di atas menghasilkan kesimpulan sederhana yaitu: liberasi wanita Afrika dapat dimulai dari upaya kemajuan wanita Afrika di bidang ekonomi yang menjadi masalah mendalam masyarakat Afrika, dan sangat dapat dilakukan oleh pemerintah yang ternyata selama ini absen dalam melindungi wanita.

Fakultas Pertanian, Jurusan Sawah, Prodi Nyangkul

Ini tulisan tentang pendidikan di Indonesia meskipun judulnya nyangkul, bukan maksud filosofis, tapi yah dibaca dulu deh.

Petani adalah Pahlawan Indonesia!

Cerita sedikit dulu soal UGM. Jadi di kampus saya yang katanya kerakyatan itu ada 18 fakultas. Mungkin salah satu paling banyak di Indonesia. Dengan banyaknya fakultas ini UGM punya banyak mahasiswa dan dari berbagai jenis dan kebiasaan juga yang membuat UGM paling enak untuk diskusi. Kamu nonton berita apa aja semua tema dari masalah korupsi, pemilu, sampai impor beras, semua bisa didiskusiin dengan mahasiswa yang memang bergerak di bidang itu.

Di UGM fakultas-fakultas dibagi jadi beberapa kluster. Salah satunya kluster agro. Di agro ini ada pertanian, kehutanan, teknologi pertanian, kedokteran hewan, sama peternakan. Ini bedanya UGM sama universitas lain karena meskipun universitas dia punya fakultas banyak jenis dan lengkap. Kalau kamu suka hewan, ya dokter hewan tapi misal kamu mau punya banyak hewan untuk usaha praktis aja ambil peternakan. Kalau kamu suka pertanian, juga suka teknik, ambil aja fakultas teknologi pertanian. Enak kan, fakultasnya spesifik.

Menurut saya keren kalau universitas punya fakultas seperti di kluster agro itu. Karena berarti UGM pintar menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat sekitar UGM. Kalau masyarakat sekitar petani, ya dia buat fakultas pertanian. Itu wajib bagi UGM yang ada di daerah dengan keajaiban irisan desa-kota. Saya yang dari Jakarta merasa Jogja itu ajaib karena suatu saat kamu ada di tempat dengan lampu gemerlap dan gedung tinggi tapi begitu kamu naik motor setengah jam aja ke arah luar Jogja kamu udah bisa menemukan desa sedesa-desanya dengan rumah di tengah sawah dan punya kepala dusun. Wow.

Nah, kembali ke kampus. Kluster agro ini menghasilkan ratusan sampai ribuan sarjana tiap tahun. Sarjana lho, bukan petani. Beda sarjana dengan petani. Sarjana nggak nyangkul. Sarjana nggak senyum-senyum bareng bu tani yang bawain bekal untuk pak tani. Sarjana itu kulitnya nggak hitam terbakar matahari, dan biasanya masih sibuk nonton bioskop, pacaran, online, wisata kuliner, dan hobi anak muda lainnya yang saya nggak paham. Pak tani? Sekali-sekali ngedangdut atau nonton kuda lumping yang biasanya gratis.

Apa sarjana nyangkul? Nggak dong. Dia udah bayar puluhan juta untuk kuliah, masak nyangkul. Terus sarjana ngapain? Kerja di perusahaan pertanian, jadi peneliti pupuk, kesehatan hewan, bikinin makanan hewan, mengembangkan bibit dan lain-lain. Bayar puluhan juta? Iya, puluhan juta belum termasuk fotocopy. Dan karena biasanya biaya muncul di muka, orang miskin takut kuliah, jadi fakultas pertanian isinya bukan anak pak tani dan bu tani yang mau bantu orangtuanya biar nyangkul lebih nyaman dan produktif. Fakultas pertanian isinya orang kota atau orang kaya desa yang berpendapat kalau pertanian itu profit-nya gede dan industrinya diprediksikan berkembang pesat, stabil, dan lain-lain dan lain-lain.

(Calon) Sarjana nyangkul mungkin cuma ada di KKN PPM UGM (promosi :D) tapi tetep susah cari foto anak KKN nyangkul, kebanyakan foto sendiri, rame2, sama penduduk, sama anak2, sama pemandangan. -_-

Dan sarjana nyangkul sesungguhnya mungkin hanya ada di dunia game. Masih pada inget game harvest moon? 🙂

Nah, kenapa memang kalau sarjana nggak nyangkul? Memang kenapa kalau anak petani nggak kuliah di UGM atau institut-institut lain yang lebih mahal?

Karena ini bukan tulisan ekonomi ayo kita bahas cepat. Menurut data-data mainstream Indonesia superkaya karena punya GDP lebih dari 845,7 milyar US dollar (2011). Tapi penduduk kita ada lebih dari 200 juta dan 43.000 orang terkaya di Indonesia menguasai 25% dari GDP. Lalu penduduk miskin Indonesia di tahun 2010 ada 13,3% yang berarti ada lebih dari 30 juta orang Indonesia miskin. Definisi miskin? Kata pemerintah, orang miskin adalah orang dengan penghasilan dibawah Rp 211.700 per bulan yang berarti penghasilannya cuma seharga handphone superlow-end atau baju bermerek diskon di mal-mal terkenal Jakarta (baca artikel ini: http://bit.ly/UxR9j9). Bayangin aja bagaimana uang sejumlah itu bisa memenuhi kebutuhan hidup satu bulan. Berarti lagi, pasti lebih banyak lagi orang miskin di Indonesia bukan menurut standard pemerintah tetapi standard kemanusiaan.

Mau tebak-tebakan berapa banyak yang ada di desa? Tak jawab: 18,97 juta orang. Mau tebak-tebakan profesinya apa? Petani dong. Jadi semiskin apa petani? Nggak perlu tebak-tebakan, dateng aja ke salah satu desa petani dan coba rasakan sendiri karena kata Stalin “death of one man is tragedy, but death of million is statistic”. Kemiskinan itu harus dirasakan bukan dibaca dengan data-data.

Sarjana Nyangkul atau Petani Sekolah?

Hitung-hitungan uang di atas harus membuat kita prihatin. Karena pemerintah sudah mengalokasikan banyak dana ke pendidikan yang digunakan oleh UGM, IPB, dan banyak kampus negeri lain untuk menyelenggarakan pendidikan pertanian. Tetapi sayangnya yang menikmati bukan petani. Pak tani dan Bu tani nggak pernah sibuk ke kampus dan bikin skripsi karena mereka sibuk nyangkul dan nyangkul untuk kelangsungan hidup dan secara langsung membuat kita bisa tetap hidup karena kita makan nasi dan produk-produk pertanian lainnya.

Sementara para sarjana membuat perusahaan pertanian dan meriset banyak untuk pengembangan pertanian, keuntungan dari perusahaan itu nggak banyak turun ke petani langsung. Petani gagal mengubah nasibnya sendiri dan malah, yah, dipekerjakan sesama orang Indonesia setelah lebih dari 70 tahun yang lalu dieksploitasi kumpeni. Petani hanya konsumen yang beli pupuk-pupuk candu perusahaan pertanian. Atau produknya dibeli murah, disikat dan dimonopoli, perusahaan-perusahaan ekspor-impor jahat yang cinta WTO dan bersahabat dengan pemerintah Indonesia. Perusahaan-perusahaan kapitalis yang memburuhkan petani-petani pemilik lahan kecil makin besar dan besar, dan sarjana UGM, IPB, dan lain-lain menikmati surplus perdagangan dari investasi kemiskinan yang diberikan petani untuk kemajuan sarjana, hedonisme Indonesia, dan kapitalisme internasional.

Apakah pendidikan salah sasaran? Apa fakultas di UGM bukan diadakan untuk masyarakat petani Yogyakarta dan Jawa dan apa IPB ada bukan untuk petani Indonesia? Jadi pendidikan universitas hanya untuk kesejahteraan peserta kuliah dan bukan rakyat Indonesia? Apa sarjana yang egois dan pelit membagi keuntungan pada petani atau sarjana terpaksa pelit pada petani karena sudah bayar puluhan juta untuk kuliah?

Yang terjadi di Indonesia adalah petani tidak pernah bisa kuliah (karena beliau sibuk), anaknya tidak bisa sekolah (karena mahal), dan yang sekolah adalah orang lain yang setelah lulus masih sulit untuk membantu kesejahteraan petani meskipun teknologi pertanian di Indonesia semakin berkembang. Yang terjadi adalah tidak ada pendidikan untuk petani dalam jumlah dan kualitas yang besar dan signifikan di Indonesia. Kebijakan pendidikan diarahkan pada kebutuhan kota dan dunia industri kantoran sementara pendidikan-pendidikan untuk orang desa dengan pekerjaan kasar tidak terpenuhi. Hasilnya, petani tidak pernah bisa mengangkat derajat hidupnya sendiri.

Lebih parah lagi, ketika petani tak bisa sekolah (juga anaknya) para sarjana yang dihasilkan universitas sedikit yang punya kecintaan pada petani. Petani profesional menjadi kasta di atas petani kasar dan kepedulian terhadap nasib petani hanya samar-samar tertutup orientasi uang banyak dan kenikmatan dunia kota yang mahal-mahal. Pendidikan untuk menghasilkan intelektual kerakyatan yang punya kepedulian sirna dari Indonesia.

tanpa keterikatan emosional antara intelektual dan masyarakat-bangsa… maka hubungan antara kaum intelektual dan masyarakat-bangsa hanya akan menjadi hubungan yang murni bersifat birokratis-formal; intelektual akan menjadi sebuah kasta atau kependetaan…” (Antonio Gramsci) 

Bahasan di atas hanya menggambarkan betapa pendidikan begitu jauh dari masyarakat sehingga sampai sekarang meskipun semakin banyak yang sekolah di Indonesia, tingkat ketimpangan sosial masih sangat tinggi. Harus mungkin kita buat Universitas Petani, Fakultas Pertanian, Jurusan Sawah, dengan Prodi Nyangkul alias memaksakan petani untuk kuliah atau memaksakan sarjana nyangkul. Ini salah siapa pun lah karena kuliah mahal dan pendidikan untuk petani minim.

Terus saatnya cursing darkness dan berdemonstrasi begitu?

Pendidikan yang Peduli dan Mendidik Kepedulian

Bukan, sekarang jamannya menyalakan lilin sambil menghilangkan sumber kegelapan bung.

Sudah banyak gerakan pendidikan di Indonesia yang mulai sangat terasa semangatnya setelah Gerakan Indonesia Mengajar mulai kampanye di tahun 2010. Gerakan mengajar sekarang bertebaran di Indonesia terutama di kampus-kampus tanda semangat kepedulian itu ada dalam diri mahasiswa Indonesia. Di luar itu gerakan sosial berbagai rupa (idealis sampai cuma populis) hadir mewarnai kekecewaan sekaligus semangat move on para aktivis dan pemuda yang tidak lagi mengandalkan pemerintah. Kamu bisa ikut gabung dengan mereka atau buat gerakan mu sendiri dengan ide kreatifmu di bidang apapun dan bersinergi dengan mereka.

Menyalakan lilin harus diiringi dengan melawan kegelapan. Amar ma’ruf, nahi munkar. Kamu juga bisa riset, kerja di pemerintah, LSM, dan berbagai organisasi yang peduli di bidang pertanian, ataupun bidang-bidang lain dan juga elemen masyarakat lain yang dilupakan oleh pendidikan seperti buruh yang meskipun puluhan tahun kerja di pabrik asing sampai sekarang nggak bisa buat perusahaan sendiri. Kamu bisa ubah kebijakan dan buat penelitian yang mendukung kesejahteraan petani, butuh, dan elemen masyarakat lain yang kesulitan.

Intinya kepedulian harus hadir di Indonesia, terutama di pendidikan Indonesia. Kalau pemerintah belum mau mengajarkan kepedulian dan mengizinkan kepedulian tumbuh dalam sistem yang baik, mari kita yang bertanggungjawab untuk menghidupkan kepedulian itu karena kepedulian penting dilestarikan pada mereka yang terdidik dan terpelajar.

Biasakan berorganisasi dan serius lah KKN. Pendidikan di masyarakat itu penting karena selain menjadikanmu siap kerja (tujuan pragmatis) juga menjadikanmu mengerti dunia masyarakat yang tidak seindah buku dan data. Banyak banget orang hebat yang dilahirkan di jalanan dan di masyarakat yang sekarang sudah jadi pengusaha bahkan penemu yang punya integritas tinggi. Rasakan dan cintai masyarakat, siapapun mereka, dan kamu akan rasakan bedanya.

Air pengetahuan ditumpahkan ke perguruan tinggi, semoga tumpah dan membantu irigasi di pertanian, mendinginkan mesin pabrik yang terlalu panas. Itulah pendidikan yang peduli.