Saya Pun Dulu Begitu

Ada beberapa daftar hal yang saya rasa wajib diajarkan ke anak-anak saya nanti. Akhir tahun ini daftar tersebut bertambah satu hal: sedikit-banyak, apapun yang kau lakukan akan kembali padamu dengan berbagai cara, dan itu hampir pasti.

Selama 2015-2016, secara hitungan kasar saya pernah berada di setidaknya 6 perusahaan. Memang seru sekali petualangan di masa itu. Ada perusahaan yang cuma 2 bulan saya bergabung lalu resign. Ada perusahaan yang saya ikut bangun selama kurang lebih 3 tahun lalu saya tinggal. Macam-macam memang. Masing-masing tentunya punya rasa lekat tersendiri.

Ada satu perusahaan yang dengan hanya bertiga saya dan tim menangani perusahaan besar. Sangat exhaustive, berat, dan deg-degan. Karena satu dan lain hal setelah hanya beberapa bulan saya memutuskan resign saja. Tim yang mulai kompak saya tinggalkan dan semua saran untuk tidak pindah kantor saya tolak, termasuk saran dari rekan terdekat saya di perusahaan tersebut. Saya katakan: buat saya keputusan sudah bulat, sudah saya ucap. Saya tidak boleh menarik apa yang sudah saya ucap. I am an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan saya ada yang mengatakan hal yang sama ke saya.

Lalu kemudian ada satu perusahaan yang CEO-nya begitu baik. Dia begitu royal membagi ilmu dan begitu percaya memberikan saya berbagai tanggungjawab besar. Tidak hanya itu, dia memproyeksikan karir panjang bagi saya di perusahaannya. Kalau saya pernah punya mentor dalam hidup saya akan bilang mentor saya dia. Dia mengajarkan hal-hal dasar: attitude, mindset kerja, sikap profesional, softskill, mentalitas, dan hal-hal bermanfaat lainnya. Karena satu dan lain hal saya minta resign untuk pindah ke perusahaan yang menurut saya lebih damai. Segala obrol rayu saya tolak, begitu juga saran dari rekan-rekan lain yang saya curhatkan. I want to live in peace, I want to be an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan yang saya anggap “anak didik” sendiri melakukan hal yang sama ke saya.

Tahun ini semua berbalik dan menyisakan sedikit tanya: Apa sudah semua? Apa sudah lunas?

Pada mereka yang lewat dalam hidup kita, kita memang akan selalu berkaca. Orang-orang sering kali memang hanya refleksi dari apa yang kita lakukan sendiri. Dari mereka kita ambil sejumput pesan. Dan kita berikan hal yang sama. Kita saling menatap, saling bercermin.

….

Untuk mereka yang pergi saya berikan lagu ini. Kebetulan lagu ini dinyanyikan seorang pengamen ketika saya merenung sambil menanti travel untuk pulang dari Bandung. Tak selalu tapi bisa, dunia profesional pun menjadi dunia yang romantis.

“Namun bila kau ingin sendiri, cepat-cepatlah sampaikan kepadaku. Agar ku tak berharap dan buatmu bersedih..”

Advertisements

Sepotong Lagu untuk Bang Jek

Malam larut pukul 23. Jon baru pulang dari kantor setelah lembur berkepanjangan. Ini hari Jumat, hari terakhir kerja. Besok akan memulai 2 hari segala hal berbau profesi bisa dibuang jauh-jauh. Dan layaknya orang seusianya, Jumat adalah hari deadline. Kerjaan harus menumpuk.

Terbayang oleh Jon suara dan bau gerobak nasi goreng di bawah sana. Dengan bumbu acakadut dan teknik menggoreng ala-ala, dalan hitungan menit nasi goreng tek pinggir jalan siap disajikan. Baunya semerbak, batin Jon. Tetapi kewajibannya membantu rekan-rekannya

Kebencian dan Prasangka

Konon katanya masalah terbesar dan paling merusak di dunia ini adalah masalah prasangka. Mengapa antar negara berperang, antar kampung berkelahi, antar teman berselisih, alih-alih karena masalah dasarnya lebih banyak karena prasangkanya. Masalah dasarnya kecil, tetapi interpretasinya yang luar biasa.

Tidak hanya akibat langsung berupa konflik, prasangka juga menimbulkan akibat-akibat tidak langsung yang kemudian membangun relasi yang tidak seimbang dan menjadi akar dari ketidakadilan. Ini seperti yang berusaha dibahasakan oleh Karl May dalam roman sejarahnya yang berjudul En Friede Auf Erden.

Karl May berkisah bahwa antar bangsa selalu ada prasangka. Bangsa barat memprasangkai bangsa timur sebagai terbelakang secara keseluruhan. Bangsa timur memprasangkai bangsa barat sebagai penjahat juga secara keseluruhan. Prasangka yang terus saling dipupuk ini memutuskan jembatan yang bisa dibangun sebagai pemahaman antar bangsa sehingga melestarikan penjajahan dan menimbulkan dendam.

Prasangka, pada akhirnya, menimbulkan benci.

Benci kata Freud berarti “an ego state that wishes to destroy the source of its unhappiness”. Kalau ini kata Freud, berarti dalam benci harus ada sumber ketidakbahagiaan. Dan ketika Freud sendiri suka bilang kalau manusia tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati karena adanya peradaban, sebenarnya benci adalah fitrah dari seorang manusia.

Benci sayangnya seperti kita rasakan sehari-hari juga muncul dari beberapa hal khusus. Dalam konteks benci yang sifatnya sosial, ideologi adalah pelaku utama sumber kebencian tersebut. Ideologi yang mengumpulkan gagasan-gagasan dunia yang ideal, yang dikejar para idealis sebagai their source happiness, menjadi landasan bagi para idealis untuk menemukan sumber-sumber ketidakbahagiaan yang baru. Apa-apa yang mengahalangi dunia idealnya, ideologinya, adalah musuh-musuh kebahagiaan yang perlu dibenci.

Dan dalam selimut ideologi tersebut, para pembenci melakukan beberapa hal seperti:

  • Overgeneralization. Sang pembenci menggunakan logika gothak gathuk untuk membesarkan satu kasus dan melakukan generalisasi kasus tersebut sebagai kesalahan fatal dan total. Karenanya mudah bagi pembenci untuk mengukuhkan kebenciannya.
  • Read the thought. Pembenci selalu merasa bisa membaca pikiran lawannya. Prasangka itu. Pembenci merasa yakin bahwa lawannya berpikir hal-hal yang pastinya merugikan ia, menambah alasannya untuk memebnci.
  • Emotional reasoning. Pembenci selalu menganggap persepsinya yang paling utama dan benar dan merupakan realitas. Kalau emosinya merespon, itu pikiran yang diikuti.
  • Maximalisasi & Minimalisasi. Pembenci memilah dengan baik mana yang perlu dibesar-besarkan dan mana yang perlu dikecil-kecilkan saja.
  • Katastropikisasi. Bagi pembenci, masalah apapun akan menjadi masalah paling besar, paling bencana. Keunggulan lawan akan berarti kekacauan alam semesta, bahaya kuadrat, yang perlu segera diselamatkan dengan aksi heroiknya.

 

Dari karakter benci tersebut, sudahkan Anda melakukan keempatnya sekaligus?

 

Bukan Tulisan Relijius (1): Budak Poligami

Menalarkan(-nalarkan) agama sudah lama menjadi topik yang semriwing. Apa daya, ilmu agama terbatas, tidak pernah nyantri, ngaji sambung rutin saja bolos hampir 100%. Di sisi lain logika ala pelajar sosio humaniora terus menantang dogma-dogma pop maupun serius yang bertebaran menggerayangi berbagai fenomena sosial dari urusan politik, nyari duit, sampai urusan nikah. Dan dalam gelisah-gelisah kagok tersebut berbagai bentuk pikiran lahir. Salah duanya pada topik ini, perbudakan dan poligami.

Apakah Anda seorang muslim yang acap kali mendapatkan pertanyaan seperti ini?

“Kak, kalau di agama kakak boleh kan ya?”
“Wah islam tuh ngebolehin ini itu”

Saya tidak. Karena saya dipaksa bergaul secara homogen oleh komunitas sok relijius itu. Becanda deng. Sekali waktu saya dapat pertanyaan itu. Dan untuk menjawabnya dalam beberapa proses ngaji, seperti saat mankul Surat Al Baqarah banyak sekali pembahasan soal wanita yang bisa diingat-ingat. Tapi beberapa terlalu berat dan kurang sekuler untuk bisa enak dipakai diskusi dengan lawan agama (semacam lawan jenis). Akhirnya, logika gathuknya jadi begini:

Ya memang boleh. Tapi ayatnya begini lho (sambil menjelaskan 2, 3, 4, berlaku adil blabla). Lalu masuk ke konteksnya. Pertama, jaman dulu Nabi mempraktekkan dengan banyak menikahi janda. Beliau menikah untuk menyelamatkan janda tersebut. Kedua, pada dasarnya 4 adalah batasan bagi kalangan Arab dan mungkin kebiasaan praktek feodal pada zaman itu yang biasanya punya banyak istri alias selir. Karenanya 4 sebenarnya limitasi, 4 ini revolusioner dan mengawali himbauan kuat untuk jangan banyak-banyak punya istri. Karena Islam yang sejati mengajarkan orang berlaku adil, menahan kemaluan, nah kalau 4 itu apa pasti bukan karena kemaluan? 4 adalah awalan dari revolusi, batas atas dari sejatinya yang harus sesuai dengan nilai ke-Islam-an. Ketika konteks sekarang dimana praktek beristri banyak itu langka dan tidak sesuai norma umum, maka sebenarnya itu ciri masyarakat islami.

Logikanya sama dengan perbudakan. Perbudakan adalah aktivitas yang umum. Maka apa perbudakan boleh? Dalam banyak konteks, nilai dan sejarah, Islam anti-perbudakan. Lha wong semua manusia sama di mata Tuhan, yang membedakan akhlaknya, bagaimana bisa ada relevansi bagi perbudakan. Sekarang ketika perbudakan tidak ada lagi, lagi-lagi sebenarnya ini yang islami.

Nabi itu revolusioner. Ia merupakan gerakan ‘kiri’ alias menolak kemapanan dari orang-orang Quraisy yang berkuasa dengan agama yang hanya melegitimasi kesewenangan dan akumulasi kapital mereka. Kaum-kaum bangsawan ini opresif, diktator, dan zalim. Sementara gerakan Nabi dengan nilai islam adalah gerakan pembebasan. Semua sama di mata Tuhan. Semua bisa masuk surga. Tidak ada monopoli dari pihak yang berkuasa. Tidak ada ningrat yang lebih tinggi hanya karena keturunan dan harta. Islam itu liberasi. Dan ketika sekarang kita semakin merdeka, belum tentu kita jauh dari Islam. Bisa jadi kita malah memang makin islami minus bahasa arab.

Cantik yang Poskolonial

Apa definisi Anda soal cantik? Bisa jadi definisi kita sama, minimal mirip, karena cantik biasanya nilainya bersifat kultural. Meskipun ada preferensi terhadap gaya rambut tertentu, bentuk fisik tertentu, tetapi ada cantik yang umum. Misalnya saja Dian Sastro. Semua akan bilang cantik, tapi ada yang bilang cantiknya biasa aja, atau ada yang seperti saya ini yang bilang dia cantik banget.

Berangkat dari perspektif tidak sholeh, ketika lahir di dunia kita relatif bersih dari persepsi dan ukuran-ukuran penilaian. Tidak ada ingatan yang terbawa dari orangtua, juga tidak sifat. Yang terbawa itu ciri biologis. Meskipun mungkin ciri biologis mempengaruhi sifat juga. Ketika lahir mestinya kita belum tau ukuran ganteng cantik jelek. Tapi dari kecil, saya, dan mungkin juga Anda, sudah diajarkan secara gencar ukuran-ukuran estetika tersebut. Mulai dari hidung mancung, rambut lurus panjang, tinggi semampai, langsing, bulu mata lentik, kulit putih merona, hingga lesung pipit. Anda setuju nggak kalau ciri-ciri fisik itu sama dengan cantik di kultur kita?

Kira-kira dari mana ya ukuran ini muncul? Dalam studi poskolonial ada konsep bernama mimikri. Para ilmuwan poskolonial menyebutkan masyarakat bekas terjajah memiliki kecenderungan terjajah di alam pikiran meskipun secara fisik tidak terjajah lagi. Masyarakat ini masih berorientasi kebarat-baratan dan masih mengakui superioritas barat termasuk dalam segi budaya dan identitas. Mereka dari masyarakat terjajah biasa melakukan mimikri atau upaya untuk meniru simbol-simbol kultural dari kaum penjajah. Sebut saja misalnya jas yang sudah sering digunakan di kalangan pejabat dan pebisnis. Kemudian selera film, musik, hingga sastra. Maka bisa juga simbol-simbol kecantikan diambil dari para penjajah, dari para wanita penjajah, yang lebih superior dan berkuasa.

Sampai sekarang saya sendiri belum bisa menerima kecantikan beberapa artis negro di film serial maupun film layar lebar barat. Mereka dipuji di Oscar atau di acara gosip tapi saya sendiri tidak bisa berselera. Tetap saja yang cantik yang bule-bule, yang pirang ataupun brunette, yang mancung, mata biru, semampai, hot. Begitu juga ketika lihat artis Jepang, Korea, atau Thailand. Yang mancung, badan hot, kulit putih atau eksotis.

Ya, ngapain pula kita dekonstruksi makna cantik. Kurang kerjaan. Tonton aja sinetron kayak biasa dan berfantasi. Sambil mendiskriminasi orang-orang di sekitar yang tidak masuk kategori cantik.