Monster

Beberapa orang memang menjalani takdir sebagai orang yang lebih mencolok dan lebih dekat dengan kemasyhuran. Orang-orang ini didefinisikan dan dikonseptualisasi jalan hidupnya oleh para motivator serta penulis. Ada yang bilang mereka outliers, inovator, atau alpha. Tetapi saya selalu menggunakan julukan yang sama untuk orang seperti mereka yang saya temui di berbagai tempat. Saya juluki mereka dengan julukan monster.

Ciri-ciri Monster

Monster itu besar dan menakutkan. Sangat kuat, menimbulkan rasa ngeri, dan tidak terbendung. Seperti itulah impresi saya pada orang-orang extraordinary tersebut. Orang-orang ini mengambil profesi masing-masing: ketua LSM, akademisi, olahragawan, hingga CEO. Dan dalam menjalaninya mereka tanpa bergeming siap mendobrak dan menabrak, menghancurkan tatanan bila perlu, dan melakukan yang tidak biasa dilakukan orang lain. Ya seperti monster.

Satu ciri monster yang paling dominan, bagi saya, adalah determinasi super tinggi. Monster tidak biasa mundur dan terlalu menyukai tantangan

Advertisements

Identitas Kerja

Beberapa waktu lalu saya berbagi tulisan tentang keinginan menghapus work-life balance. Akan tetapi baru belakangan sebenarnya saya lebih paham makna dari fantasi iseng tersebut setelah merefleksikan beberapa fakta dunia kerja di sekitar.

Kerja itu begitu dominan dalam hidup manusia hingga punya pengaruh besar dalam mendefinisikan identitasnya. Identitas manusia paling dasar biasanya adalah namanya. Nama mewakili sebuah atribut diri yang paling personal. Nama merepresentasikan sebentuk makhluk yang dilabeli nama tersebut. Biasanya mewakili sebentuk fisik tertentu. Kerja di sisi lain merupakan identitas pelapis nomer dua. Kerja memberikan atribut identitas satu lagi bagi seorang manusia yang merupakan representasi dari dirinya.

Ilustrasinya begini. Kalau kita bertemu orang, tentu akan mudah bagi kita untuk memperkenalkan nama, karena itu merupakan representasi dari diri kita. Kemudian untuk membuat orang memahami siapa kita, kita tentunya alih-alih menyebut hobi, buku kesukaan, atau bahkan agama, kemungkinan kita kan menyebutkan seperangkat identitas yang menjamin kredibilitas kita sebagai manusia. Bisa jadi asal daerah, bisa jadi meskipun hampir mustahil asal pendidikan, tapi yang paling mungkin adalah profesi. Saya bernama X, bekerja sebagai Y di Z. Itu adalah bentuk perkenalan yang standard.

Identitas kerja memang kuat, identitas itu merepresentasikan sebentuk entitas makhluk tersebut. Akan tetapi, apa identitas tersebut memang benar-benar seegitu powerfulnya? Work-life balance pada dasarnya konsep yang mengurangi kekuatan identitas tersebut. Dalam work-life balance yang diterapkan, ketika selesai kerja, seseorang menanggalkan identitas profesinya di kantor. Ia bukan lagi seorang misal Marketing Officer atau Finance Manager, tetapi ia murni seorang bernama X, anggota keluarga V. Bisa jadi profesinya masih terbawa ketika disebut-sebut di sekitar keluarga atau lingkungan, tetapi aktivitas yang mengidentifikasi bagian identitasnya tersebut sudah hampir 100% ditanggalkan.

Saya pada dasarnya menolak konsep tersebut dengan alasan bernama passion.

Saya menyukai bidang pekerjaan saya. Maka ketika keluar dari jam resmi kantor, saya sejatinya masih membawa identitas kerja saya. Ketika saya pulang naik ojek, saya seorang Marketing yang sedang jalan pulang dan saya melihat sekitar dengan perspektif seorang marketing tersebut. Saya melihat iklan, bukan hanya dalam artian terhibur dengan kreativitasnya, tetapi juga melihat dalam perspektif seorang praktisi periklanan dan marketing perusahaan yang mencari strategi terbaik dalam beriklan. Ketika saya berkenalan dengan orang, saya seorang marketing yang akan selalu mencoba menyambungkan keberadaan orang tersebut dan kebutuhan perusahaan. Ketika saya membuka timeline socmed, secara tanpa sadar saya akan memenuhi newsfeed dengan kabar teknologi, bisnis, dan seputar marketing sehingga waktu sosial saya pun ada kaitannya dengan profesi. Lalu saya akan copy link sana sini, skrinshot sana sini, dan share sana sini, kapan saja, sebagai bagian tak putus dari identitas profesi saya.

Ketika mengampu posisi tertentu, saya 100% mendalami posisi tersebut. Ketika di kantor secara resmi, di rumah, di jalan, dan dimana-mana. Bahwa saya 100% orang yang sedang berada di profesi tersebut dan akan 100% mencoba maju dengan profesi tersebut. Tanpa batas-batas, tanpa formalitas.

Mindset

There are tons of piece out there which talk about the concept of mindset. But I want to write a small note here to share how this mindset thing has become a topic for me for the last 2 days.

It was Thursday and I had an interview with someone that important for the company (the circumstances needs to be undisclosed). There were two interviewers, they asked about what I do for the company. One of the guys was quite sharp. It only took him several minutes to hit me with a strong hook from the left and a well-aimed right straight to the face. I’ll spare you the details. What he said was I “don’t have the right mindset.”

WTF

But he was quite right. Accidentally. I couldn’t say the conversation flow was going systematically and of course it’s not in my favor. We were talking about different thing and we hadn’t finished yet. His concern was answered in the end, after the one-two punch unfortunately, and I knew that I’d been doing a right thing after all. But despite all that, he made that statement anyway and somehow he made me realize about that other thing that lurks in the dark side. It’s there, and it’s been bugging me, and that is the incorrect mindset of chilidish and giving a shit.

No matter how strong I am at making strategy, that mindset dispells any perfection. No matter how hard I try to deliver every task, that mindset reduces every attempt from reaching 100%.

Childish

The first stupid thing that I have in mind is that I live in a safety, supporting world, filled with surprising bonus and hundred of helping hand along the road. Just like a child, protected by parents and usually supported to have an easy life. It might be true, very true, I believe so. I’m confident I can easily survive this world. But this very mindset is a growth killer.

It’s just like when you swim with a tube. You can go anywhere deep and even though you feel anxious, you know you won’t get drown because you have the tube. So you try to swim, you put the motion that you learn at Youtube in practice. You train for like 2 hours and by the end of the session you feel very satisfied, thinking that you’re progressing and you’re awesome because you were floating.

Compare this with someone who trains to swim without any tube. This guy just jumps into the pool and suddenly drowning then he tried everything that he can to go to the surface. His theory doesn’t work, it’s hidden somewhere, instinct takes over. At the end, he grasps the edge of the pool for help. But after that he tried again, trying to put the theory into practice. Now with modification, adjusting to what he thinks he needs in his current condition. He tried that couples of time for 2 hours.

So, between the two swimming apprentice, who do you think will master the swim first?

Both of them will probably learn to swim eventually. But the first apprentice spent 2 hours with so much help and trained within an ideal condition, safe from the harsh reality of gravitation and massa jenis. And the second apprentice spent 2 hours learning all the truth and memorize it with his mind and his body. Of course the second one will learn faster, theoretically.

That’s the same if you have that mindset of safety haven just like a child. You put yourself safe from the truth and you’re satisfied with a small achievement. You excuse yourself in every of your mistake. You blame others. You just want to do something fun. You only want to stick with your ideal of happiness and allergic to ambitious rival. You think that you’re better, you’re the best, while never realize that you just better among your group but not among your professional peers outside your zone. You kill your potential mercilessly.

Giving a Shit

I’ve been known as a very sensitive person. While being sensitive, I also arrogant and rude. It’s a vicious cycle, you know. You make people hate you, then you questioned why they hate you. Then you overthink, you know you’ve been good to them and being sincere. Then you accidentally poke another people again, they somehow hate you, you’re angry because they hate you, and you poke them again, you feel offended again, hate again. All in a circle. Sooo frustrating.

It’s not easy to escape the cycle and you basically can start anywhere to fix it. You can fix the arrogant part first. Or you can amplify the sincere part. Or you can just goddamn close the sensitive part.

Or. You can just stop giving a shit. Giving a shit on how you should react. Giving a shit about how people would think. Giving a shit about how you’re gonna get hurt and disappointed.

This is a fucking company. A billion rupiah company seeing a trillion number on the horizon. It’s about the livelihood of billions of people. It’s about you making a contribution to the world. It’s about how you spend your youth that gonna leave you in a couple of years. And it’s about piling some blessings to give a special place for your family in heaven. Working is praying for God’s sake! You work hoping to gain the ridho of God!

So stop giving too much shit. Stop thinking that you might get hurt and stop hoping in people. It’s not about you can do it or not. IT’S ABOUT YOU HAVE TO DO IT OR JUST FUCKING RESIGN AND GO TO SLEEP. It’s not about they’re gonna respect you or not, being too careful and not making any achievement will make them look down on you anyway. So it’s better to just blaze through and make something rather than walking slow but showing weakness and make them piss on you.

Stop waiting, make it happen. Stop giving a shit to other people and give yourself nothing. Stop doing something without hoping for something in return.

Idealis

“All men are intellectuals, but not all men have in society the function of intellectuals”

Suatu waktu dalam hidup manusia pasti bertanya “apa yang idealnya saya lakukan di dunia?”. Pertanyaan ini sering muncul pada beberapa orang, dan jarang pada orang yang lain lagi. Ideal berbeda dengan keinginan. Ideal merupakan konsepsi akan hidup yang sempurna, konsepsi yang murni dan kuat di alam pikiran tetapi tidak pernah bisa diwujudkan dunia nyata. Orang-orang bilang orang yang menginginkan konsepsi ideal tersebut berarti memiliki idealisme. Dan pemiliknya disebut idealis.

Coba kalau ada orang di sekitar kita yang disebut idealis. Pasti bukan karena semangatnya mengejar harta atau ambisinya keluar negeri kan. Tetapi bagaimana ia hidup dengan code of conduct-nya sendiri dan berusaha mengubah dunia sekitarnya agar sesuai dengan yang ideal menurutnya. “Dia anti pake produk asing, idealis banget.”. “Dia nggak mau beli aqua botol sama sekali, idealis banget.”

Idealis adalah, kalau memang bisa disebut demikian, kualitas yang langka. Dalam dunia yang diatur moda produksi dan hukum alam, konsep ideal manusia tidak mudah diterapkan dan tidak mudah tumbuh subur. Apalagi dalam pedagogi agak opresif yang suka ditanamkan pemerintah untuk melanggengkan hegemoni.

Meski demikian beberapa orang tumbuh dengan idealisme. Dan pengalaman masa kecilnya adalah kunci.

Melihat Orang

Petani Main Internet

Data terbaru APJII (2016) menyebutkan saat ini ada 132,7 juta pengguna internet di Indonesia. Angka ini luar biasa fantastis mengingat data terakhir di 2014 baru menyebutkan angka 88 juta. Berarti selama kurang dari 2 tahun peningkatannya 50% lebih. Dan kini setengah penduduk Indonesia telah menggunakan internet. Selamat datang era digital yang sesungguhnya.

Menggunakan tebak-tebakan berhadiah, lonjakan pengguna internet ini sepertinya bersumber dari dua hal: pertama, adopsi gadget yang makin cepat dari segi umur terutama di kalangan menengah ke atas; kedua, adopsi gadget yang meluas hingga ke kelas menengah bawah dan kaum rural. Melihat dari statistik demografis masyarakat Indonesia, sumber kedua sepertinya yang paling valid.

Penulis sendiri melihat setidaknya ada 3 fenomena yang menunjukkan perluasan pengguna tersebut baik pada peningkatan range usia maupun perluasan segmen masyarakat. Pertama, munculnya fenomena grup Whatsapp keluarga yang jumlahnya membengkak. Dalam grup tersebut bahkan kakek dan nenek juga mengadopsi gadget demi bergabung di grup Whatsapp. Ketika smartphone telah menjadi handphone yang standard menggantikan stupidphone, para orang tua cenderung lebih mudah terkonversi menjadi pengguna internet. Grup WA juga dianggap sebagai media silaturahim yang sangat tepat dan cepat sehingga mendorong penggunaan tersebut lebih jauh lagi. Belum lagi kultur belanja online yang makin meluas baik melalui olshop standard di Instagram hingga marketplace kekinian.

Kedua, fenomena ojek online yang mengharuskan adopsi gadget bagi para pengendara ojek yang rata-rata kelas menengah kebawah. Karena kebutuhan ini mereka membeli smartphone dan mulai terpapar ekosistem digital lainnya terutama chat messenger dan social media. Paparan smartphone dan internet ini juga menjadi virus ketika para social climber ini mulai mempengaruhi teman dan kerabat lainnya untuk menggunakan gadget.

Ketiga, meningkatnya pengguna rural melalui aktivitas bisnis dan jejaring profesi. Penulis secara khusus memantau ini pada segmen petani ikan. Sementara banyak alat dan teknologi yang mengharuskan petani lebih pintar berinternet, penetrasi utama sepertinya muncul dari chat messenger. Sebagai media silaturahim dan mencari pengetahuan, petani kerap menggunakan media whatsapp. Mereka sangat gandrung, setidaknya dari pengalaman penulis bergabung di berbagai grup petani ikan dan penuturan dari beberapa petani muda.

Fenomena unik ini kini membuka peluang baru. Apakah petani akan seperti anak muda yang hidupnya habis main gadget? Atau justru petani akan bisa menggunakan gadget ini sebagai kesempatan membuka peluang, mendapatkan informasi, dan meningkatkan jejaring bisnisnya. Yang jelas era konektivitas semakin terasa. Dunia social media yang tadinya hanya milik anak muda kini mulai ramai dengan orang berbagai rupa.