Identitas Kerja

Beberapa waktu lalu saya berbagi tulisan tentang keinginan menghapus work-life balance. Akan tetapi baru belakangan sebenarnya saya lebih paham makna dari fantasi iseng tersebut setelah merefleksikan beberapa fakta dunia kerja di sekitar.

Kerja itu begitu dominan dalam hidup manusia hingga punya pengaruh besar dalam mendefinisikan identitasnya. Identitas manusia paling dasar biasanya adalah namanya. Nama mewakili sebuah atribut diri yang paling personal. Nama merepresentasikan sebentuk makhluk yang dilabeli nama tersebut. Biasanya mewakili sebentuk fisik tertentu. Kerja di sisi lain merupakan identitas pelapis nomer dua. Kerja memberikan atribut identitas satu lagi bagi seorang manusia yang merupakan representasi dari dirinya.

Ilustrasinya begini. Kalau kita bertemu orang, tentu akan mudah bagi kita untuk memperkenalkan nama, karena itu merupakan representasi dari diri kita. Kemudian untuk membuat orang memahami siapa kita, kita tentunya alih-alih menyebut hobi, buku kesukaan, atau bahkan agama, kemungkinan kita kan menyebutkan seperangkat identitas yang menjamin kredibilitas kita sebagai manusia. Bisa jadi asal daerah, bisa jadi meskipun hampir mustahil asal pendidikan, tapi yang paling mungkin adalah profesi. Saya bernama X, bekerja sebagai Y di Z. Itu adalah bentuk perkenalan yang standard.

Identitas kerja memang kuat, identitas itu merepresentasikan sebentuk entitas makhluk tersebut. Akan tetapi, apa identitas tersebut memang benar-benar seegitu powerfulnya? Work-life balance pada dasarnya konsep yang mengurangi kekuatan identitas tersebut. Dalam work-life balance yang diterapkan, ketika selesai kerja, seseorang menanggalkan identitas profesinya di kantor. Ia bukan lagi seorang misal Marketing Officer atau Finance Manager, tetapi ia murni seorang bernama X, anggota keluarga V. Bisa jadi profesinya masih terbawa ketika disebut-sebut di sekitar keluarga atau lingkungan, tetapi aktivitas yang mengidentifikasi bagian identitasnya tersebut sudah hampir 100% ditanggalkan.

Saya pada dasarnya menolak konsep tersebut dengan alasan bernama passion.

Saya menyukai bidang pekerjaan saya. Maka ketika keluar dari jam resmi kantor, saya sejatinya masih membawa identitas kerja saya. Ketika saya pulang naik ojek, saya seorang Marketing yang sedang jalan pulang dan saya melihat sekitar dengan perspektif seorang marketing tersebut. Saya melihat iklan, bukan hanya dalam artian terhibur dengan kreativitasnya, tetapi juga melihat dalam perspektif seorang praktisi periklanan dan marketing perusahaan yang mencari strategi terbaik dalam beriklan. Ketika saya berkenalan dengan orang, saya seorang marketing yang akan selalu mencoba menyambungkan keberadaan orang tersebut dan kebutuhan perusahaan. Ketika saya membuka timeline socmed, secara tanpa sadar saya akan memenuhi newsfeed dengan kabar teknologi, bisnis, dan seputar marketing sehingga waktu sosial saya pun ada kaitannya dengan profesi. Lalu saya akan copy link sana sini, skrinshot sana sini, dan share sana sini, kapan saja, sebagai bagian tak putus dari identitas profesi saya.

Ketika mengampu posisi tertentu, saya 100% mendalami posisi tersebut. Ketika di kantor secara resmi, di rumah, di jalan, dan dimana-mana. Bahwa saya 100% orang yang sedang berada di profesi tersebut dan akan 100% mencoba maju dengan profesi tersebut. Tanpa batas-batas, tanpa formalitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s