Kebencian dan Prasangka

Konon katanya masalah terbesar dan paling merusak di dunia ini adalah masalah prasangka. Mengapa antar negara berperang, antar kampung berkelahi, antar teman berselisih, alih-alih karena masalah dasarnya lebih banyak karena prasangkanya. Masalah dasarnya kecil, tetapi interpretasinya yang luar biasa.

Tidak hanya akibat langsung berupa konflik, prasangka juga menimbulkan akibat-akibat tidak langsung yang kemudian membangun relasi yang tidak seimbang dan menjadi akar dari ketidakadilan. Ini seperti yang berusaha dibahasakan oleh Karl May dalam roman sejarahnya yang berjudul En Friede Auf Erden.

Karl May berkisah bahwa antar bangsa selalu ada prasangka. Bangsa barat memprasangkai bangsa timur sebagai terbelakang secara keseluruhan. Bangsa timur memprasangkai bangsa barat sebagai penjahat juga secara keseluruhan. Prasangka yang terus saling dipupuk ini memutuskan jembatan yang bisa dibangun sebagai pemahaman antar bangsa sehingga melestarikan penjajahan dan menimbulkan dendam.

Prasangka, pada akhirnya, menimbulkan benci.

Benci kata Freud berarti “an ego state that wishes to destroy the source of its unhappiness”. Kalau ini kata Freud, berarti dalam benci harus ada sumber ketidakbahagiaan. Dan ketika Freud sendiri suka bilang kalau manusia tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati karena adanya peradaban, sebenarnya benci adalah fitrah dari seorang manusia.

Benci sayangnya seperti kita rasakan sehari-hari juga muncul dari beberapa hal khusus. Dalam konteks benci yang sifatnya sosial, ideologi adalah pelaku utama sumber kebencian tersebut. Ideologi yang mengumpulkan gagasan-gagasan dunia yang ideal, yang dikejar para idealis sebagai their source happiness, menjadi landasan bagi para idealis untuk menemukan sumber-sumber ketidakbahagiaan yang baru. Apa-apa yang mengahalangi dunia idealnya, ideologinya, adalah musuh-musuh kebahagiaan yang perlu dibenci.

Dan dalam selimut ideologi tersebut, para pembenci melakukan beberapa hal seperti:

  • Overgeneralization. Sang pembenci menggunakan logika gothak gathuk untuk membesarkan satu kasus dan melakukan generalisasi kasus tersebut sebagai kesalahan fatal dan total. Karenanya mudah bagi pembenci untuk mengukuhkan kebenciannya.
  • Read the thought. Pembenci selalu merasa bisa membaca pikiran lawannya. Prasangka itu. Pembenci merasa yakin bahwa lawannya berpikir hal-hal yang pastinya merugikan ia, menambah alasannya untuk memebnci.
  • Emotional reasoning. Pembenci selalu menganggap persepsinya yang paling utama dan benar dan merupakan realitas. Kalau emosinya merespon, itu pikiran yang diikuti.
  • Maximalisasi & Minimalisasi. Pembenci memilah dengan baik mana yang perlu dibesar-besarkan dan mana yang perlu dikecil-kecilkan saja.
  • Katastropikisasi. Bagi pembenci, masalah apapun akan menjadi masalah paling besar, paling bencana. Keunggulan lawan akan berarti kekacauan alam semesta, bahaya kuadrat, yang perlu segera diselamatkan dengan aksi heroiknya.

 

Dari karakter benci tersebut, sudahkan Anda melakukan keempatnya sekaligus?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s