Pani dan Angin

Pani, lelaki muda ingusan berkulit hitam dan gemuk

Besar kepalanya tapi sipit matanya. Kecil telinganya, lebar mulutnya!

 

Pani selalu bermain angin, tapi Pani bukan seorang yang cermat

Dia hantam badai, dia coba kangkangi puting beliung

Tapi bukan Pani kalau ia menang, bukan Pani kalau ia berhasil

 

Terpelanting. Hobinya.

Bukan karena lemah orangnya, tapi karena kecil nyalinya!

Ia selalu tengok kiri dan kanan, tak bisa tentukan pilihan: mana puting beliung yang paling menawan?

 

Lehernya seperti tak pegal membopong mulutnya yang kebesaran, terus tengok kanan kiri sementara nyali kecilnya sering jatuh dari dada dan menyandung kakinya

 

Tapi Pani bukan lemah, ia tetap seorang yang takdirnya mampu menantang angin

Saat yang lain berkubang di dasar, Pani melompat garang ke atas

 

Sekarang Pani telah tinggalkan angin besarnya, bosan katanya

Ia tantang angin sepoi, mencoba menahan kantuk sebisanya

 

Kini Pani terlelap. Angin sepoi terus berhembus. Ajak ia tidur, tidur, dan tidur. Sesekali diiringi angin besar yang hapus keringatnya. Oh dosanya kebebasan, oh racunnya dunia metropolitan.

 

Advertisements