Naya dan Angin

Naya gadis manis, seorang gadis kecil yang menatap dunia.

Melihat berbagai keajaiban, hal2 menarik, dan menghirup aroma kesuksesan ketika menciptakan kebermanfaatan besar bagi orang lain

Maka itu Naya orangnya ringan langkahnya, karena cita-cita besar selalu tersemat di dadanya: mengubah dunia, kecil sekalipun.

Cita-cita besar bukan membebani, tetapi seperti udara dalam sebuah balon. Cita-cita itu mengangkatnya, meringankan kerja-kerjanya, dan menolongnya kapanpun jatuh

Tapi seperti orang lain, Naya juga tahu kalau jalan tak selalu mendaki, angin tak hanya bertiup ke atas

Maka ia adalah gadis yang lincah, yang pandai dan mengenal angin – naik turunnya hidup manusia – dan berlaku akrab padanya. Ia kenali, ikuti, dan kelola angin-angin itu dan terbang bersamanya

Kadang hujan turun, tapi matahari akan kembali

Siang kadang terlalu panas, tapi angin sore selalu menyapa

“This too shall pass” kata Naya

Maka ia selalu nikmati kebahagiaan, menghirup dalam-dalam rasanya, bersyukur, dan meyimpan energinya untuk hari esok

“This one too shall pass” kata Naya lagi

Maka ia selalu ambil renungan dalam kejatuhan, belajar baik, tapi tak pernah menyeret diri karena ia tau ini akan berlalu, dan Tuhan masih ada dalam doanya

Kini si gadis kecil pulang ke rumah. Menatap sawah, awan, dan manusia. Pernah ia jual kebahagiaannya di kota, dalam simbol-simbol materi yang dingin merasuk. Di ruang AC, supermarket, kafe mahal, dan utilitas abad 21.

Kini angin bawa ia pulang.

Terbang-terbanglah Naya bersama angin. Di atas kereta yang melaju jauh, mobil yang menghentak ke kota, motor yang mengantar ke desa, atau kapal yang mengantar keliling dunia.

Untuk tempat yang belum terjamah, dan nikmat Tuhan yang menanti untuk disyukuri.

Advertisements