Tentang Nasionalisme, Sumpah Pemuda, dan Kultur Media Sosial Kalian Anak Indonesia

Singkat saja, ini tentang saya yang dari dulu penasaran tentang post-post viral di dunia maya. Inget tentang kasus seseorang-yang-saya-lupa-namanya yang melakukan posting di media sosial Path mengenai ia yang tidak suka memberi tempat duduk untuk ibu-ibu hamil dengan berbagai alasan yang menyakiti kemanusiaan dan ke-Indonesia-an kita? Atau ingat juga kasus mbak Florence yang juga berasal dari Path?

Saya selalu terheran-heran Path yang sebenarnya inner circle seperti itu masih bisa jadi sumber hot thread lintas media sosial. Siapa sih yang sungguh iseng untuk menyebarkan hal yang sifatnya pribadi dari temannya tersebut dan menjadikannya bahan cercaan manusia se-Indonesia?

Hingga dalam obrolan seorang teman sampailah pada sebuah teori: kemungkinan viralitas media tersebut bukan cuma sekadar penyebaran yang organik tapi juga eksperimen sosial dari para ahli marketing atau pelaku dunia digital, spin doctor, yang selalu mencari bahan-bahan baru untuk keributan di ruang publik bernama media sosial.

Maka atas dasar tersebut, dengan segala kesadaran bahwa yang saya post di Facebook saya hanyalah sarkasme biasa untuk teman, kenalan, dan Anda, semua yang mungkin tidak cinta negara ini, saya lakukan eksperimen viralitas media sosial. Kurang lebih langkahnya sebagai berikut:

1. Mencari momentum yang sedang ramai dibicarakan orang-orang

Saya pilih momentum Sumpah Pemuda, tanpa alasan khusus, hanya kebetulan sesuai waktunya

2. Membuat konten yang viral dengan beberapa prinsip…

Apasih viralitas itu? Ketika konten tersebar dengan cepat, ganas, dan ampuh seperti virus, itulah yang disebut kondisi viral. Viral berarti sejatinya punya beberapa prinsip dasar yang terkait dengan pemahaman terhadap kondisi sosiologis dan psikologi publik yang dalam eksperimen ini adalah publik Indonesia. Prinsip pertama yang saya gunakan adalah viralitas yang terjadi belakangan memiliki sentimen negatif, maka kontenpun harus dibuat negatif, cocok sebagai bahan olok-olo. Kedua, mengingat sifat orang-orang dalam publik Indonesia yang suka main hakim sendiri tapi di satu sisi selalu bereaksi terhadap sifat-sifat buruk dirinya yang diungkapkan orang lain, konten harus juga menelusuri pemikiran dalam publik yang mungkin ada tapi malu untuk diungkap karena bertentangan dengan norma sosial yang ajeg. Ketiga, ada obyek tertentu yang kuat menjadi sasaran bully. Obyek tersebut kemudian berpengaruh terhadap tone and manner yang saya pilih dalam pembuatan konten: muda, jaman sekarang, bodoh dan melakukan hal-hal kontradiktif dalam post-nya, seakan produk kegagalan pendidikan moderen yang terpengaruh sinetron, gadget, dan lain-lain. Voila!

3. Luncurkan

Awalnya sih saya hanya ingin taruh di Facebook saja. Tapi ndilalah seorang teman memasukkannya ke Kaskus, raja segala viral, yang naasnya tanpa menyensor nama saya. Terbukti, 6 halaman segera penuh dalam kurun waktu beberapa jam saja. Dalam tantangan saya saya menyebutkan tentang pseudonasionalis. Maksud saya adalah para nasionalis semu, yang hanya akan terpancing pada barang-barang panas dan ribut, sementara belum tentu sejatinya nasionalis..

Jadi begini saja, sebenarnya terkait dengan konten yang saya buat saya mau juga tanyakan kepada semua para ‘nasionalis’. Kalau faktanya negara kita dipandang sebelah mata, anak-anak muda kita lari pada pelukan budaya asing, dan kesejahteraan rakyat kita nol, apa yang harus dilakukan? Bukankah sudah sering bangsa ini masuk dalam delusion of grandeur ketika acapkali ribut tentang segala macam sejarah hanya sebagai pemanis tanggal-tanggal peringatan, tapi minim dalam aksi. Berapa yang mengaku nasionalis tapi enggan berinvestasi pada produk lokal,  mengaku nasionalis tapi kesulitan berbahasa sesuai dengan bahasa kaum dan mencerahkan bangsa? Mengaku nasionalis tapi menyemai kultur menghujat, lemah dalam upaya-upaya verifikasi dan pencarian kebenaran yang serius, dan mudah tersulut.

Nasionalisme lebih dari kata-kata. Kata-kata hanya pagar dari bangunan nasionalisme. Sementara aktivitas sehari-hari kita dari bangun pagi, sarapan, makan, mengonsumsi, berpikir, berdoa, dan bekerja adalah bangunan sejati dari nasionalisme.

Saya yakin banyak yang lebih nasionalis dari saya dalam wacana dan tindakan. Saya minta maaf atas segala perlakuan saya yang menyakiti kecintaan pada bangsa meskipun cuma sebentar. Akhir kata, hidup Indonesia.

Thread terkait eksperimen http://www.kaskus.co.id/thread/544f4b64138b4629618b456b/ane-ngga-ngerti-apa-yang-ada-di-pikiran-pemuda-ini/

Update:

Jam 11 tanggal 29 Oktober ini sudah lebih 11 halaman di Kaskus dengan banyak sentimen negatif, apresiatif, ataupun mempertanyakan metode eksperimen saya. Untuk semuanya saya apresiasi. Terbukti kok pemuda Indonesia mudah tersulut, siap berkata kasar, dan berarti banyak orang marketing yang bisa mempermainkan emosi gejolak anak muda Indonesia ini. Misal saya pakai profpic merek dagang tertentu atau kemudian mengarahkan akun saya untuk promosi sebuah partai politik, betapa mudahnya. Sama seperti teman-teman di media sosial yang masih follow akun-akun yang dibenci yang kemudian memudahkan tokoh negatif tersebut untuk tetap menyebarkan infonya. Mudah sekali mudah, untuk menyebar gosip, berita miring, fakta palsu, untuk menggoncangkan nalar orang Indonesia dengan kultur media sosial yang kita miliki sekarang. Marah marah marah, hobi sekali manusia Indonesia marah. Marah marah, adili, hina, habisi, rendahkan, siksa, sesuai sekali dengan mental luhur pendiri bangsa ya? Kan itu tuduhan pada mereka yang dianggap tidak nasionalis. Jadi sikap kasar para anak muda itu belajar dari sejarah Indonesia? Eksperimen saya mungkin kurang elok bagi banyak orang, tapi memuaskan bagi saya untuk memancing keluar kepalsuan karakter dan klaim-klaim kehebatan manusia Indonesia.

Kapan kita bisa maju? 😀

Advertisements

Ello si Media Sosial Idealis dan Logika Traction

ello manifesto

Untaian kalimat radikal di atas tak lain dan tak bukan adalah manifesto milik sebuah media sosial baru bernama Ello. Media sosial selama ini kita kenal direpresentasikan oleh Facebook, Twitter, Path, dan Instagram membuat konsep media sosial terkesan indah, bahagia, dan optimis. Tiba-tiba sebuah media sosial baru menjadi hip dengan manifestonya yang sesungguhnya adalah common sense yang tidak jadi common-common amat ketika kita lebih suka hanya bergaul dan bereksis ria di media sosial. Media yang mengatakan bahwa ‘you are not a product’, dan mereka ingin menciptakan sebuah ruang publik dimana kita bisa berhubungan tanpa dijual demi kepentingan bisnis periklanan.

Valid-kah argumen Ello dalam manifestonya? Mari kita lihat cari insight dari data pendapatan iklan yang dimiliki oleh Facebook dan Twitter dan pengembangan interface dan user experience yang mereka lakukan untuk pengembangan iklan.

Lihat infografik menarik ini tentang evolusi media sosial dari segi iklan dan investasi http://mashable.com/2014/10/03/state-of-advertising-infographic/

Dimulai di tahun 2007, Facebook membuka fitur Fanpage untuk perusahaan. Tahun 2010, Twitter memulai fitur Promoted Tweet. 2011 Twitter memulai platform analisisnya sendiri yang artinya Twitter semakin serius dalam memahami profil user mereka. Di tahun yang sama Facebook memulai fitur Sponsored Stories. Tahun 2012 diwarnai dengan IPO-nya Facebook, meresmikan kerajaan bisnis internasional Facebook. Twitter IPO di tahun 2013. Dan di tahun 2013 Pinterest memulai fitur Promoted Pins, Instagram memulai Sponsored Posts, dan Linkedin memulai Sponsored Updates.

Selama kuarter II 2013 hingga kuarter II 2014, Facebook mengalami kenaikan pendapatan iklan sebanyak 67% dari sekitar $1,5 milyar menjadi $2,68 milyar. Sementara Twitter baru mencapai $277 juta. 83% dari Fortune Top 100 Brands memiliki kehadiran di Facebook. 74% online retailers memiliki akun Twitter. Bagaimana dengan Google? $17,47 milyar pendapatan iklan di tahun 2013.

Data-data tersebut sangat jelas bukan?

baby controlled by brand

Traction

Media sosial dan iklan, not surprisingly, berjalin berkelindan begitu erat. Juga sesungguhnyaapps, situs, dan semua ruang publik digital yang mengundang banyak pengunjung dan user. Iklan adalah hantu, dan traction adalah jimat pemanggil hantu.

Traction adalah logika yang sangat akrab bagi para penggiat start-up. Aplikasi atau website diukur dari kekuatan traction mereka: apakah banyak user yang mendaftar, atau banyak visitor yang mengunjungi. Traction menjadi bagian penting dari business process sehingga dianggap sebagai data paling penting untuk dipresentasikan pada investor.

Entah bagaimana, itulah yang acap kali menjadi mindset dari startup. Bahwa menciptakan website atau aplikasi yang terpenting adalah berhasil menemukan target audience terbaik, dengan niche yang tepat yang dapat divaluasi dari besarnya traction. Bukan bisnis konvensional seperti yang kita kenal yang menjual langsung barang dan mendapat keuntungan dari pengunjung yang bertransaksi, (kebanyakan) mindset perusahaan startup adalah menjual ruang publik, ruang nyaman bagi orang untuk mengekspresikan kesukaan, eksistensi, dan lain sebagainya. Sehingga jargon yang paling sering diulang oleh para mentor startup adalah produk harus menjadi solusi dan divalidasi oleh target audience.

What’s in it for the investor? Tentu saja semakin berkualitas traction yang ada baik dari segi angka dan persona yang dimiliki maka semakin berharga valuasi potensi pasarnya untuk gaining influence dan beriklan. Semakin banyak user semakin efektif jangkauan iklan dan pengaruh. Semakin spesifik karakter user semakin besar nilai konversi yang dapat dihasilkan karena ketepatan target audience (misal berjualan sepatu bola di website sepak bola). Data ini juga dapat dihubungkan dengan jaringan iklan seperti Google Display Network yang mengambil data sebanyak-banyaknya dan membuat algoritma agar iklan selalu sampai pada orang yang tepat dan lebih mungkin untuk di-klik.

traction growth untuk startup

Inilah yang menjelaskan kenapa Facebook sangat unggul dalam social media ads. Facebook memiliki data demografis yang sangat detil dan user paling banyak. Di Facebook para pemasang iklan dapat menyasar usia, lokasi, minat, hingga jenis kelamin yang dielaborasi datanya oleh pengawasan terhadap user behaviour dalam Facebook. Bahkan lebih jauh Facebook telah menyatakan akan menguntit aktivitas user-nya di luar Facebook melalui button Facebook seperti ‘Like’, ‘Share’ dan ‘Connect with Facebook’ yang berada di mungkin hampir 100% situs di dunia.

Inilah juga mengapa statistik dan data analysis menjadi semakin penting di Twitter, Pinterest, dan Instagram. Agar pemahaman akan audience semakin berkualitas dan iklan semakin tepat sasaran. Dan ini juga yang mungkin menjadi alasan mengapa setelah IPO iklan semakin intens di media sosial – agar dana investasi segera membuahkan hasil.

Begitu kawan. Data kita dijual di media sosial. Aktivitas kita dipantau habis-habisan dimulai dari situs yang kita kunjungi hingga setiap langkah check-in­ kita di berbagai tempat. Dunia kita dikuasai oleh normalisasi dan kenyamanan masuknya iklan. Satu sisi sepertinya menjadi konsep yang sangat menarik bahwa kita tidak diganggu oleh iklan: kita hanya melihat iklan  yang sepertinya kita ‘suka dan butuh’. Di sisi yang lain, iklan akan menjadi realitas sehari-hari kita dan seiring jargon ‘convert’ para marketers kita akan dibuat sedemikian rupa untuk mengonsumsi produk mereka.

Threat or Opportunity?

Mungkin buat mereka yang kurang cocok dengan konsumerisme, injustice capitalism, dan ekses sosial-lingkungan-kultural (yang demi Allah sudah nyata adanya tolong jangan cuma bawa angka pertumbuhan ekonomi lagi akhi) akan kurang suka dan skeptis.

Apa pendapatmu?