Selamat Mengutip yang Baik

Untuk yang mau tau referensi pengutipan 

Ada tiga sistem di pdf ini, gaya Harvard, Chicago, sama Student Citation System.

Ini dapet di kampus, lupa yang nulis siapa, jelas bukan saya.

Pengutipan Harvard, Chicago, SCS

Susahnya bikin makalah ilmu sosial yang tanpa penelitian itu bukan susah bikin tulisan ngasalnya biar dapet nilai B s/d A, tapi memastikan tulisan itu secara keilmuan tepat, secara pengetahuan memproduksi hal baru, secara data baik, dan lain-lain yang dituntut standard-standard saintifik. Kalau nggak ada penelitian lapangan, nggak ada sumber data primer, harus banyak kutipan yang multiperspektif dan bener-bener tergabung dengan landasan konseptual. Maksudnya, ambil landasan dan perspektif yang sesuai panggilan hati, dan cari data-data yang banyak dan dari berbagai sumber untuk bisa buktikan ketepatan perspektif. Kalau nulis makalah cuma pakai perasaan, nulis blog aja.

Penting banget. Data-data yang signifikan dan nggak umum harus pakai kutipan. Data umum misal Indonesia merdeka 17 Agustus nggak perlu dikutip, tapi misal Bung Karno salto tanggal 16 Agustus harus dikutip karena itu nggak umum dan signifikan! Pendapat orang yang kita baca dan apalagi yang jelas semacam kesimpulan atau analisis dia atas sebuah peristiwa jelas juga harus dikasih kutipan. Misalnya bilang kalau Indonesia merdeka karena pengaruh konspirasi y*****, atau perbudakan di Arab didukung oleh Islam.. KALAU NGGAK PAKAI KUTIPAN YAKINLAH ITU PERASAAN. Kutipannya juga nggak bisa cuma satu, dua, tiga, empat, karena sejarah biasanya ditulis sesuai perspektif dan kepentingan penulis. Kalau teori, pilih panggilan hati, tapi logika dan asalnya juga harus jelas. “Semua filsafat benar, tinggal liat aja mana yang banyak pengikutnya.”

Selamat mengutip yang baik, yang banyak, yang diniatkan dengan ikhlas demi kemajuan ilmu pengetahuan

Advertisements

Sistem Hukou dan Ketimpangan Sosial di China

Image 

Sistem Hukou di China adalah sistem pendataan dan kontrol penduduk yang telah ada di China semenjak zaman kekaisaran hingga pemerintahan Republik Rakyat China, dimana semenjak 1950 telah menjadi fondasi bagi ‘institutional exclusion’ berdasarkan tempat tinggal (desa dan kota) bagi 1,3 milyar penduduk China saat ini.[2] Sayangnya, dengan konsentrasi industrialisasi di kota yang menyebabkan perekonomian tumbuh pesat disana, penduduk desa kesulitan hidup dengan layak sehingga mendorong mereka untuk bermigrasi. Sistem Hukou ini adalah instrumen penting yang menyebabkan ketimpangan sosial di China dan harus direvisi. Logika otoritarian, kesalahan strategi pembangunan, dan sumber korupsi yang masih dilestarikan oleh sistem Hukou menjadi argumen bagi kebutuhan untuk merevisi sistem ini.

Saat ini di China terjadi ketimpangan luar biasa antara penduduk desa dan kota. Saat penduduk kota memiliki disposable income rata-rata tahunan sebesar 19,100 Yuan, penduduk desa hanya memiliki 5,900 Yuan atau kurang lebih hanya sepertiga penduduk kota.[3] Sangat wajar mengingat konsentrasi industri di kota-kota yang sangat signifikan menyusul reformasi ekonomi China pasca-Mao.

Sistem Hukou moderen sendiri memang ditetapkan pada masa Mao di tahun 1950. Sistem ini sangat wajar mengingat urbanisasi yang berbahaya kerap terjadi di negara berkembang dan menyebabkan sulitnya kontrol terhadap pembangunan ekonomi di kota sehingga menimbulkan masalah sosial yang kronis. Saat itu sistem diterapkan dengan strategi pembangunan dengan pembuatan commune di desa sehingga diharapkan pembangunan di desa akan pesat.[4] Yang tidak wajar adalah ketimpangan  yang terjadi setelahnya ketika Hukou sangat membatasi kesempatan pemilik Hukou desa untuk bekerja di kota dengan fasilitas dan gaji maksimal. Dan lagi perubahan kebijakan pada masa Deng Xiaoping tidak diimbangi dengan perubahan kebijakan kependudukan yang dibutuhkan. Disaat mobilisasi dibutuhkan untuk mengisi strategi industrialisasi kota dengan mengandalkan kekuatan buruh China di pabrik-pabrik, Hukou justru bersifat kontraproduktif dengan menahan migrasi penduduk dari desa ke kota. Sementara itu investasi agrikultur di desa juga menurun hingga hanya di bawah 10% pada tahun 2004.[5]

Kekakuan dalam sistem Hukou yang menyebabkan masalah dalam migrasi tenaga kerja tampaknya disebabkan oleh logika yang kurang tepat dalam administrasi kependudukan di China. Sistem Hukou China sebagaimana dideskripsikan dalam Regulation on Household (Hukou) Registration of the People’s Republic of China adalah sistem untuk manajemen populasi dan administrasi sosial penduduk China yang memiliki fungsi unik seperti kontrol administratif migrasi, manajemen penduduk dan pengunjung sementara, dan manajemen zhongdian renkou (orang-orang diawasi).[6] Menariknya, sistem administrasi penduduk sipil ini berada langsung dibawah Kementrian Keamanan Publik (Ministry of Public Security) meskipun China sendiri memiliki Kementerian Urusan Sipil dan Kementerian Perumahan dan Pembangunan Desa-Kota.[7]

Logika otoritarian di China memasukkan Hukou dibawah pengawasan Kementrian Keamanan Publik mungkin disebabkan oleh fungsi Hukou sebagai pendataan warga negara sehingga sangat erat dengan kepentingan intelijen seperti pengawasan penduduk dan pengunjung. Dengan Hukou dan khususnya zhongdian renkou, pemerintah China dan khususnya kepolisian dan Kementrian Keamanan Publik yang menangani langsung Hukou mampu mengawasi secara ketat mobilitas penduduk termasuk dalam mengidentifikasi identitas penduduk yang asing dan mencurigakan. Sayangnya Hukou sesungguhnya lebih erat dengan kepentingan ekonomi ketika industrialisasi sangat gencar dijalankan China. Sistem Hukou yang ketat justru menghambat mobilisasi tenaga kerja dan justru memunculkan bibit korupsi dengan masuknya kepentingan keamanan dan intelijen dengan kepentingan ekonomi.

Pada dasarnya memang bukan tidak mungkin terjadi perpindahan dan penggantian Hukou dari desa ke kota, ataupun dari kota ke desa. Akan tetapi proses yang dibutuhkan sangatlah rumit, berjenjang, dan mahal. Seorang migran membutuhkan transfer dari Hukou aslinya ke Hukou untuk migran, dilanjutkan dengan izin relokasi Hukou, dan kemudian mengurus izin di kantor polisi tujuan relokasi Hukou. Meski demikian terdapat batasan dalam jumlah pemiliki Hukou di sebuah kota.

Kesulitan izin ini hadir menjadi masalah seiring dengan diskriminasi bagi pemegang Hukou yang menguntungkan pemilik Hukou kota. Ketimpangan yang tinggi, pusat perekonomian dan lapangan kerja di kota, diiringi fasilitas yang baik dari pendidikan hingga kesehatan di kota mendorong banyak penduduk desa China untuk bermigrasi dan merelokasi Hukou mereka. Demand yang tinggi ini (hingga lebih dari tiga ratus juta orang melakukan urbanisasi[8]) tidak dipenuhi oleh supply yang cukup sehingga memunculkan paksaan terhadap peningkatan supply yang muncul dalam bentuk korupsi. Korupsi ini muncul pada proses izin relokasi Hukou di kantor-kantor polisi. Meskipun biaya relokasi Hukou telah diatur, beberapa kota besar bahkan memaksakan biaya hingga sebesar lima puluh ribu Yuan pada tahun 1990an.[9]

Permasalahan migrasi desa-kota, logika otoritarian pada sistem Hukou, dan korupsi yang disebabkan oleh sistem Hukou telah menunjukkan bahwa sistem Hukou berkontribusi terhadap tumbuhnya ketimpangan sosial di China. Atas dasar tersebut sistem Hukou sebagai sistem administrasi kependudukan yang tadinya memiliki tujuan yang baik secara logika pembangunan tetapi kemudian berdampak buruk harus direvisi dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi serta kebutuhan mendasar penduduk China. Perbaikan sistem Hukou dapat membantu mengatasi masalah ketimpangan sosial di China antar desa-kota yang sudah sangat kronis.

Daftar Pustaka

 

Buku

 

Fishman, T.C., China Inc. How the Rise of the Next Superpower Challenges America and The World, edisi Bahasa Indonesia China Inc. Bagaimana Kedigdayaan China Menantang Amerika dan Dunia, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006

Park, A. ‘Rural-Urban Inequality in China’, dalam S. Yusuf dan T. Saich, China Urbanizes: Consequences, Strategies, and Policies, The World Bank, Washington, 2008, hlm. 41-63

Wang, F.L., Organizing Through Exclusion and Divison: China’s Hukou System, Stanford University Press, California, 2003

Sumber Internet

 

Artikel

D. Tobin, D. ‘Inequality in China: Rural Poverty Persists as Urban Wealth Baloons’, BBC News, 29 Juni 2011, http://www.bbc.co.uk/news/business-13945072 diakses 14 Januari 2013

Mirsky, J., ‘The China We Don’t Know’, The New York Review of Books, <http://www.nybooks.com/articles/archives/2009/feb/26/the-china-we-dont-know/> diakses 14 Januari 2013

Laman Website

http://english.gov.cn/links.htm


[1] Oleh Ivan Nashara, Mahasiswa Hubungan Internasional UGM, untuk memenuhi tugas pengganti UAS mata kuliah Politik dan Pemerintahan China Semester Ganjil 2012

[2]F. L. Wang, Organizing Through Exclusion and Divison: China’s Hukou System, Stanford University Press, California, 2003

[3] D. Tobin, ‘Inequality in China: Rural Poverty Persists as Urban Wealth Baloons’, BBC News, 29 Juni 2011, http://www.bbc.co.uk/news/business-13945072 diakses 14 Januari 2013

[4]J. Mirsky, ‘The China We Don’t Know’, The New York Review of Books, <http://www.nybooks.com/articles/archives/2009/feb/26/the-china-we-dont-know/> diakses 14 Januari 2013

[5]A. Park, ‘Rural-Urban Inequality in China’, dalam S. Yusuf dan T. Saich, China Urbanizes: Consequences, Strategies, and Policies, The World Bank, Washington, 2008, hlm. 55

[6] F. L. Wang, hlm. 63

[7] Lihat http://english.gov.cn/links.htm yang berisi daftar kementrian di pemerintahan China

[8] T. C. Fishman, China Inc. How the Rise of the Next Superpower Challenges America and The World, edisi Bahasa Indonesia China Inc. Bagaimana Kedigdayaan China Menantang Amerika dan Dunia, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006, hlm. 32

[9] F. L. Wang, hlm. 83

#AnakDidikJepang Jangan Ngaku Pemimpin Kalo Nggak Belajar dari Son Goku

 

ImagePemimpin Jagoan? Ya Son Goku

Mau ketemu pemimpin yang ikhlas? Pemimpin yang tidak memilih diri sendiri, tetapi dipilih secara alamiah oleh orang-orang di sekitarnya? Pemimpin yang tidak muluk-muluk dengan cita-cita, visi, jargon, ideologi, dan keberpihakan? Pemimpin yang kehadirannya selalu berarti satu hal bagi siapapun yang paham: harapan itu masih ada? Pemimpin yang bukan karena orang lain saja, juga bukan karena pemikiran panjang lebar tetapi keinginan alamiahnya pasti mengarah pada kebaikan? Pemimpin yang dicintai orang didekatnya dan diremehkan orang yang tidak mengenalnya tetapi ia tidak peduli citra ataupun persepsi orang? Pemimpin yang sangat cool, kharismatik, inspiratif, genuine, ialah Son Goku alias Kakarot, seorang manusia dari planet Saiya yang dikirim ke Bumi ketika masih kecil dan besar dengan tradisi orang gunung yang liar, polos, tetapi bersemangat dan loyal terhadap orang yang dianggapnya pantas.

Son Goku bukan Imam Mahdi. Bukan, dia tidak diakui oleh banyak orang, dia tidak punya umat. Dia adalah elit di antara petarung yang levelnya jauh di atas orang rata-rata, yang perjuangan hidup-mati nya menentukan nasib orang banyak tapi tidak ada yang merasakan. Tapi Son Goku ikhlas, sangat ikhlas, bukan dibuat-buat tapi sudah sunatullah-nya dia ikhlas.

Bukan, ini bukan tentang filosofi-filosofi apa lah, idealisme hebat dari komik apa lah, memaknai, refleksi, apa lah. Ini Cuma soal uswatun hasanah kepemimpinan kelas kakap. Yang anggap baik dan indah semoga Anda jadi pemimpin, yang tidak suka semoga Anda segera hancur.

#AnakDidikJepang Teman yang Baik? Ya Cuma Onizuka-sensei

Image

Naruto teman yang baik? Halah, dia egomania. Orang gila yang mau memasukkan semua isi dunia di kepalanya, dunia versi dia, teman versi dia, kebaikan versi dia, perdamaian versi dia, kepahlawanan versi dia. Orang gila Naruto itu.

Sahabat yang baik ya cuma Onizuka-sensesi si Great Teacher Onizuka. Karena dia juga egois untuk teman kayak Naruto, cuma dia lebih peduli, lebih terasa sisi kepentingan muridnya yang dia sayang yang dia perjuangkan bukan ego anak kecil suka teriak-teriaknya.

Kamu punya teman? Bohong. Oh mungkin ada, tetapi tidak ada konsep teman yang ideal. Yang ideal cuma Onizuka. Kalau ada pun yang berusaha jadi teman ideal hampir pasti tidak terwujud. Pasti ada yang dilupakan, ada yang kurang, ada yang tidak diperhatikan. Yang baik ya cuma Onizuka. Karena ia di komik. Dan tidak ada ujian keikhlasan yang di-setting empunya komik. Selesai.