Fakultas Pertanian, Jurusan Sawah, Prodi Nyangkul

Ini tulisan tentang pendidikan di Indonesia meskipun judulnya nyangkul, bukan maksud filosofis, tapi yah dibaca dulu deh.

Petani adalah Pahlawan Indonesia!

Cerita sedikit dulu soal UGM. Jadi di kampus saya yang katanya kerakyatan itu ada 18 fakultas. Mungkin salah satu paling banyak di Indonesia. Dengan banyaknya fakultas ini UGM punya banyak mahasiswa dan dari berbagai jenis dan kebiasaan juga yang membuat UGM paling enak untuk diskusi. Kamu nonton berita apa aja semua tema dari masalah korupsi, pemilu, sampai impor beras, semua bisa didiskusiin dengan mahasiswa yang memang bergerak di bidang itu.

Di UGM fakultas-fakultas dibagi jadi beberapa kluster. Salah satunya kluster agro. Di agro ini ada pertanian, kehutanan, teknologi pertanian, kedokteran hewan, sama peternakan. Ini bedanya UGM sama universitas lain karena meskipun universitas dia punya fakultas banyak jenis dan lengkap. Kalau kamu suka hewan, ya dokter hewan tapi misal kamu mau punya banyak hewan untuk usaha praktis aja ambil peternakan. Kalau kamu suka pertanian, juga suka teknik, ambil aja fakultas teknologi pertanian. Enak kan, fakultasnya spesifik.

Menurut saya keren kalau universitas punya fakultas seperti di kluster agro itu. Karena berarti UGM pintar menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat sekitar UGM. Kalau masyarakat sekitar petani, ya dia buat fakultas pertanian. Itu wajib bagi UGM yang ada di daerah dengan keajaiban irisan desa-kota. Saya yang dari Jakarta merasa Jogja itu ajaib karena suatu saat kamu ada di tempat dengan lampu gemerlap dan gedung tinggi tapi begitu kamu naik motor setengah jam aja ke arah luar Jogja kamu udah bisa menemukan desa sedesa-desanya dengan rumah di tengah sawah dan punya kepala dusun. Wow.

Nah, kembali ke kampus. Kluster agro ini menghasilkan ratusan sampai ribuan sarjana tiap tahun. Sarjana lho, bukan petani. Beda sarjana dengan petani. Sarjana nggak nyangkul. Sarjana nggak senyum-senyum bareng bu tani yang bawain bekal untuk pak tani. Sarjana itu kulitnya nggak hitam terbakar matahari, dan biasanya masih sibuk nonton bioskop, pacaran, online, wisata kuliner, dan hobi anak muda lainnya yang saya nggak paham. Pak tani? Sekali-sekali ngedangdut atau nonton kuda lumping yang biasanya gratis.

Apa sarjana nyangkul? Nggak dong. Dia udah bayar puluhan juta untuk kuliah, masak nyangkul. Terus sarjana ngapain? Kerja di perusahaan pertanian, jadi peneliti pupuk, kesehatan hewan, bikinin makanan hewan, mengembangkan bibit dan lain-lain. Bayar puluhan juta? Iya, puluhan juta belum termasuk fotocopy. Dan karena biasanya biaya muncul di muka, orang miskin takut kuliah, jadi fakultas pertanian isinya bukan anak pak tani dan bu tani yang mau bantu orangtuanya biar nyangkul lebih nyaman dan produktif. Fakultas pertanian isinya orang kota atau orang kaya desa yang berpendapat kalau pertanian itu profit-nya gede dan industrinya diprediksikan berkembang pesat, stabil, dan lain-lain dan lain-lain.

(Calon) Sarjana nyangkul mungkin cuma ada di KKN PPM UGM (promosi :D) tapi tetep susah cari foto anak KKN nyangkul, kebanyakan foto sendiri, rame2, sama penduduk, sama anak2, sama pemandangan. -_-

Dan sarjana nyangkul sesungguhnya mungkin hanya ada di dunia game. Masih pada inget game harvest moon? ūüôā

Nah, kenapa memang kalau sarjana nggak nyangkul? Memang kenapa kalau anak petani nggak kuliah di UGM atau institut-institut lain yang lebih mahal?

Karena ini bukan tulisan ekonomi ayo kita bahas cepat. Menurut data-data mainstream Indonesia superkaya karena punya GDP lebih dari 845,7 milyar US dollar (2011). Tapi penduduk kita ada lebih dari 200 juta dan 43.000 orang terkaya di Indonesia menguasai 25% dari GDP. Lalu penduduk miskin Indonesia di tahun 2010 ada 13,3% yang berarti ada lebih dari 30 juta orang Indonesia miskin. Definisi miskin? Kata pemerintah, orang miskin adalah orang dengan penghasilan dibawah Rp 211.700 per bulan yang berarti penghasilannya cuma seharga handphone superlow-end atau baju bermerek diskon di mal-mal terkenal Jakarta (baca artikel ini: http://bit.ly/UxR9j9). Bayangin aja bagaimana uang sejumlah itu bisa memenuhi kebutuhan hidup satu bulan. Berarti lagi, pasti lebih banyak lagi orang miskin di Indonesia bukan menurut standard pemerintah tetapi standard kemanusiaan.

Mau tebak-tebakan berapa banyak yang ada di desa? Tak jawab: 18,97 juta orang. Mau tebak-tebakan profesinya apa? Petani dong. Jadi semiskin apa petani? Nggak perlu tebak-tebakan, dateng aja ke salah satu desa petani dan coba rasakan sendiri karena kata Stalin “death of one man is tragedy, but death of million is statistic”. Kemiskinan itu harus dirasakan bukan dibaca dengan data-data.

Sarjana Nyangkul atau Petani Sekolah?

Hitung-hitungan uang di atas harus membuat kita prihatin. Karena pemerintah sudah mengalokasikan banyak dana ke pendidikan yang digunakan oleh UGM, IPB, dan banyak kampus negeri lain untuk menyelenggarakan pendidikan pertanian. Tetapi sayangnya yang menikmati bukan petani. Pak tani dan Bu tani nggak pernah sibuk ke kampus dan bikin skripsi karena mereka sibuk nyangkul dan nyangkul untuk kelangsungan hidup dan secara langsung membuat kita bisa tetap hidup karena kita makan nasi dan produk-produk pertanian lainnya.

Sementara para sarjana membuat perusahaan pertanian dan meriset banyak untuk pengembangan pertanian, keuntungan dari perusahaan itu nggak banyak turun ke petani langsung. Petani gagal mengubah nasibnya sendiri dan malah, yah, dipekerjakan sesama orang Indonesia setelah lebih dari 70 tahun yang lalu dieksploitasi kumpeni. Petani hanya konsumen yang beli pupuk-pupuk candu perusahaan pertanian. Atau produknya dibeli murah, disikat dan dimonopoli, perusahaan-perusahaan ekspor-impor jahat yang cinta WTO dan bersahabat dengan pemerintah Indonesia. Perusahaan-perusahaan kapitalis yang memburuhkan petani-petani pemilik lahan kecil makin besar dan besar, dan sarjana UGM, IPB, dan lain-lain menikmati surplus perdagangan dari investasi kemiskinan yang diberikan petani untuk kemajuan sarjana, hedonisme Indonesia, dan kapitalisme internasional.

Apakah pendidikan salah sasaran? Apa fakultas di UGM bukan diadakan untuk masyarakat petani Yogyakarta dan Jawa dan apa IPB ada bukan untuk petani Indonesia? Jadi pendidikan universitas hanya untuk kesejahteraan peserta kuliah dan bukan rakyat Indonesia? Apa sarjana yang egois dan pelit membagi keuntungan pada petani atau sarjana terpaksa pelit pada petani karena sudah bayar puluhan juta untuk kuliah?

Yang terjadi di Indonesia adalah petani tidak pernah bisa kuliah (karena beliau sibuk), anaknya tidak bisa sekolah (karena mahal), dan yang sekolah adalah orang lain yang setelah lulus masih sulit untuk membantu kesejahteraan petani meskipun teknologi pertanian di Indonesia semakin berkembang. Yang terjadi adalah tidak ada pendidikan untuk petani dalam jumlah dan kualitas yang besar dan signifikan di Indonesia. Kebijakan pendidikan diarahkan pada kebutuhan kota dan dunia industri kantoran sementara pendidikan-pendidikan untuk orang desa dengan pekerjaan kasar tidak terpenuhi. Hasilnya, petani tidak pernah bisa mengangkat derajat hidupnya sendiri.

Lebih parah lagi, ketika petani tak bisa sekolah (juga anaknya) para sarjana yang dihasilkan universitas sedikit yang punya kecintaan pada petani. Petani profesional menjadi kasta di atas petani kasar dan kepedulian terhadap nasib petani hanya samar-samar tertutup orientasi uang banyak dan kenikmatan dunia kota yang mahal-mahal. Pendidikan untuk menghasilkan intelektual kerakyatan yang punya kepedulian sirna dari Indonesia.

tanpa keterikatan emosional antara intelektual dan masyarakat-bangsa… maka hubungan antara kaum intelektual dan masyarakat-bangsa hanya akan menjadi hubungan yang murni bersifat birokratis-formal; intelektual akan menjadi sebuah kasta atau kependetaan‚Ķ‚Ä̬†(Antonio Gramsci)¬†

Bahasan di atas hanya menggambarkan betapa pendidikan begitu jauh dari masyarakat sehingga sampai sekarang meskipun semakin banyak yang sekolah di Indonesia, tingkat ketimpangan sosial masih sangat tinggi. Harus mungkin kita buat Universitas Petani, Fakultas Pertanian, Jurusan Sawah, dengan Prodi Nyangkul alias memaksakan petani untuk kuliah atau memaksakan sarjana nyangkul. Ini salah siapa pun lah karena kuliah mahal dan pendidikan untuk petani minim.

Terus saatnya cursing darkness dan berdemonstrasi begitu?

Pendidikan yang Peduli dan Mendidik Kepedulian

Bukan, sekarang jamannya menyalakan lilin sambil menghilangkan sumber kegelapan bung.

Sudah banyak gerakan pendidikan di Indonesia yang mulai sangat terasa semangatnya setelah Gerakan Indonesia Mengajar mulai kampanye di tahun 2010. Gerakan mengajar sekarang bertebaran di Indonesia terutama di kampus-kampus tanda semangat kepedulian itu ada dalam diri mahasiswa Indonesia. Di luar itu gerakan sosial berbagai rupa (idealis sampai cuma populis) hadir mewarnai kekecewaan sekaligus semangat move on para aktivis dan pemuda yang tidak lagi mengandalkan pemerintah. Kamu bisa ikut gabung dengan mereka atau buat gerakan mu sendiri dengan ide kreatifmu di bidang apapun dan bersinergi dengan mereka.

Menyalakan lilin harus diiringi dengan melawan kegelapan. Amar ma’ruf, nahi munkar. Kamu juga bisa riset, kerja di pemerintah, LSM, dan berbagai organisasi yang peduli di bidang pertanian, ataupun bidang-bidang lain dan juga elemen masyarakat lain yang dilupakan oleh pendidikan seperti buruh yang meskipun puluhan tahun kerja di pabrik asing sampai sekarang nggak bisa buat perusahaan sendiri. Kamu bisa ubah kebijakan dan buat penelitian yang mendukung kesejahteraan petani, butuh, dan elemen masyarakat lain yang kesulitan.

Intinya kepedulian harus hadir di Indonesia, terutama di pendidikan Indonesia. Kalau pemerintah belum mau mengajarkan kepedulian dan mengizinkan kepedulian tumbuh dalam sistem yang baik, mari kita yang bertanggungjawab untuk menghidupkan kepedulian itu karena kepedulian penting dilestarikan pada mereka yang terdidik dan terpelajar.

Biasakan berorganisasi dan serius lah KKN. Pendidikan di masyarakat itu penting karena selain menjadikanmu siap kerja (tujuan pragmatis) juga menjadikanmu mengerti dunia masyarakat yang tidak seindah buku dan data. Banyak banget orang hebat yang dilahirkan di jalanan dan di masyarakat yang sekarang sudah jadi pengusaha bahkan penemu yang punya integritas tinggi. Rasakan dan cintai masyarakat, siapapun mereka, dan kamu akan rasakan bedanya.

Air pengetahuan ditumpahkan ke perguruan tinggi, semoga tumpah dan membantu irigasi di pertanian, mendinginkan mesin pabrik yang terlalu panas. Itulah pendidikan yang peduli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s