Santoso

Lihat, gambar yang mewakilkan keajaiban. Titik hitam yang nanti berubah jadi manusia. Karena kita makhluk paling sempurna betapa bangganya orangtua karena ia adalah penanggungjawab berlangsungnya keajaiban dan kesempurnaan di dunia. Menjadi agen langsung Tuhan untuk melestarikan makhluk berjenis manusia.

Itupun perasaan saya ketika melihat gambar tersebut. Sebuah titik yang sangat saya sayang. Titik yang akan menjadi seluruh dunia saya.
Saya siapkan doa-doa khusus seperti biasa sebagai pelengkap doa sehari-hari. Doa ini menjadi doa khusus terbaru setelah doa untuk ibu dan untuk Naya. Doanya rahasia, tapi keren.

Saya siapkan juga khayalan-khayalan seperlunya. Kamar, pakaian, rencana-rencana. Sudah saya sering sampaikan pada banyak orang: anak akan jadi produk terbaik saya. Hasil kreativitas, hasil imajinasi. Sebuah makhluk polos yang suka tertawa yang di depannya ada milyaran kemungkinan. Baik, jahat, lucu, jagoan, pemarah, pemaaf, pemimpin, penguasa, jenius, dan hal-hal unik lainnya.

Tidak ada deklarasi Facebook tentunya karena saya cool. Hanya pada beberapa teman ada sedikit cerita-cerita tentang serunya. Dan pamer pada mereka karena saya punya panggilan unik untuk si calon bayi.

Panggilan unik ini berawal dari Naya yang menceritakan tentang temannya yang memberikan nama khusus ketika anaknya nakal, saya pun nyeletuk untuk memberikan nama sementara untuk si calon bayi. Namanya: Santoso.

“Loh kok Santoso, emang cowok? Kalau cewek gmana?”

Santika. Itu saja, nama-nama yang buat orang umum terdengar agak kuno dan lucu. Santoso atau Santika, yang manapun, yang penting ada panggilannya. Karena kalau kita menyayangi sesuatu kita beri ia nama. Seperti Tuhan, ada namanya.

Dalam bulan-bulan belakangan menanti Santoso Facebook menjadi media sosial langganan saya. Di newsfeed banyak sekali pamer foto anak. Banyak dari teman saya yang angkatannya di bawah saya pula. Bikin iri saja. Sekilas berpikir bahwa saya harus ngebut biar tidak kalah jauh. Tetapi kehamilan tidak bisa dikebut. Bukan balapan.

Sayangnya harapan menyusul sudah tidak ada sama sekali. Bulan ke 1, ke 2, dan ke 3, lalu semua selesai. Meski demikian saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menulis post ini demi Santoso.

Hari Pertama

Tersebutlah suatu Minggu malam, lupa tanggal berapa, ketika saya baru pulang membawa si Bubu yang baru saya adopsi. Kucing ini berbahaya nggak ya untuk kehamilan.

Ternyata di malam itu Naya pun iseng tes kehamilan. Tanpa disangka ternyata hamil.
Gembira, gembira, gembira. Saya memang subur dan produktif.

Bulan Pertama

Saya tidak ingat tanggal berapa. Kami ke dokter dari kantor masing-masing. Saya terlambat. Berantem dengan Naya seperti biasa. Waktu itu kantor sudah di Kemang dan RS pertama kami adalah Jakarta Hospital something di Mampang. Ada dokter yang hits di sana. Nomer antrian sudah saya ambilkan siangnya jadi tinggal antri. Ternyata antrian jadi terlewat karena saya terlambat. Akan tetapi tidak lama sebelum akhirnya kami bisa konsultasi.

Dokternya baik dan jelas sibuk. Langsung USG. Lalu tampaklah Santoso sebagai titik hitam. Ternyata ia sudah 5 minggu. Saya kira ia made in Jogja atau made in Lombok, tapi ternyata made in Jakarta. Tapi tak apa, ia tetap Santoso.
Ada janin 5 minggu. Hm, berarti ia ikut petualangan kita terombang-ambing di Selat Lombok. Luar biasa. Semoga baik-baik saja ya Santoso, pikir saya waktu itu. Dokter pun tidak bilang apa-apa. Selesainya tes darah seperti biasa, cek HB. Alhamdulillah HB-nya Naya sudah lebih baik.

Bulan Kedua

Naya mau pindah dokter. Dia mendapatkan rekomendasi dokter dari teman yang terpercaya. Ternyata rumah sakitnya dekat sekali dari rumah. Bekas rumah kuno. Di daerah ini dulu saya hampir setiap hari bolak balik karena naik jemputan ke sekolah. Ada seorang teman yang rumahnya hanya jarak sekian meter. Dulu ini rumah besar yang tua seingat saya. Dan sudah disulap jadi rumah sakit yang masih mempertahankan ketuaan rumahnya.

Datang pagi sekali dan dapat antrian nomer 1. Dokter delay seperti pada umumnya, tapi kami antrian pertama jadi tidak lama-lama banget menunggunya. Setelah cek tensi dan darah sekitar jam 10 kami masuk. Dokternya terlihat lebih detil, lebih sabar. Beberapa hal yang di dokter sebelumnya jadi pantangan tidak terlalu dipermasalahkan oleh dokter ini. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan enak.

USG, USG plus plus lebih tepatnya. Maka Santoso berpose lagi sebagai sebuah titik hitam yang lebih besar. Karena USG plus plus maka tiba-tiba ada frekuensi. Jantungnya sudah berdetak, kencang katanya. Santoso berdetak, Santoso hidup. Kami gembira, kami makin sayang Santoso. Diperkirakan ia lahir bulan Oktober. Dekat ulangtahun bapaknya, hore.

Santoso sudah ada. Dia bersuara pada kami lewat detak jantungnya. Dia semakin nyata di khayalan kami sebagai sebuah makhluk bernyawa yang lucu tanpa dosa. Seorang bayi mungil. Santoso, halo.

Ada obat tambahan. Vitamin berlanjut. Santoso sepertinya baik-baik saja.

Di periode ini saya berkesempatan ke Irlandia untuk urusan kantor. Mampir ke salah satu department store. Ternyata perlengkapan bayi di sini murah-murah, katanya sih kualitasnya setara dengan Mother Sesuatu di Jakarta. Saya beli satu selimut lembut seharga 10 Euro dengan motif burung hantu. Naya suka burung hantu. Buat Santoso manis.

Bulan Ketiga

Suatu malam Naya pernah bilang “Aku takut. Takut dia kenapa-kenapa.”

Naya benar, dia memang kenapa-kenapa. Kunjungan ketiga ke dokter adalah saat ketika semua berakhir di pikiran kami. Ketika Santoso benar-benar meninggalkan kami. Sebenarnya dia sudah meninggalkan kami berminggu-minggu yang lalu. Tapi dia menjadi benar-benar pergi saat kami sudah tau ia pergi.

Catatan dokter bilang ini jadi minggu ke 12/13. Jadi semestinya pertumbuhan sesuai standard. Lalu saat USG plus plus memberikan gambarnya dokterpun kaget sampai mengecek ulang catatannya. Tidak ada pertumbuhan. Alih-alih, malah ada sesuatu seperti Mola, hamil anggur. Ini progresif, blabla. Dan hal mendebarkan lain.

Satu penyakit muncul di kepala, penyakit yang mengantarkan ibu ke Allah. Saya tidak bisa duduk diam. Naya dibalik tirai pasti sudah mulai menangis.

Santoso tidak tumbuh, malah Mola ini yang sepertinya tumbuh progresif. Dokter bilang ini langka, hamil anggur. Santoso sebagai titik hitam tidak bertambah besar. Ingin sekali saya menyerobot tirai dan merangkul Naya, tapi tidak boleh. Dia mengetik keterangan-keterangan pada gambar USG plus plus. ‘Curiga mola parsial’.

Begitulah kami tahu bahwa Santoso telah pergi mungkin sejak berminggu yang lalu. Ia tidak bertambah besar, malah ada si Mola yang bertambah besar. Saya tanya Mola itu apa, blabla, dia bisa progresif, ini harus dikuret, dan jaringan akan dianalisis. Memang ini apa, saya mendesak. Dia bisa jadi penyakit itu kata si dokter, tetapi dokter tidak menyatakan bisa itu.

Sore itu kami remuk. Kami pulang naik taksi karena sinyal sulit untuk memesan taksi online. Rumah sudah dikabari. Santoso sudah meninggal.

I love you Santoso. Yesterday, now, and tomorrow.

Ibu

Tidak ada barang yang sangat ibu di rumah yang kini terasa sangat kosong. Tidak ada sebuah peninggalan khusus nan berharga yang rasanya mau saya lindungi sampai mati.

Tidak ada yang sangat. Tidak ada yang lebih-lebih. Karena praktis, (hampir) semua barang adalah ibu. Baju yang melekat, celana yang melekat, tas yang dibawa, bantal, sofa, bangku, kasur, bantal, lemari, selimut, meja. Semuanya ibu.

Mana bisa tidak, dan mana bisa mudah. Untuk saya yang tidak sebegitunya ambisius, yang belum pernah percaya kalau memimpin dunia atau terkenal adalah panggilan, mudah berjalan begitu saja dan melanjutkan hidup. Saya pun belum pernah berkata juga pada diri sendiri bahwa membahagiakan ibu adalah cita-cita tertinggi. Tapi hidup saya bersama beliau. Cerita saya ada pada beliau. Rasa dan ketenangan saya ada pada beliau.

Terus hidup seperti apalagi yang perlu saya jalani, saya tidak tahu.

Dia pergi begitu cepat dalam perspektif saya. Dan ia pun pergi karena kelalaian saya.

 

Semua keburukan seperti datang bertubi-tubi, mewujud pada pribadi saya saat ini yang tutup telinga akan nasihatnya, dan memberikan sebuah luka teramat perih bagi keluarga saya yang kini tinggal berempat.

 

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

 

 

Akan kurindukan elusanmu di kepalaku

Pelukanmu yang hangat

Senyummu yang teramat manis

Cintamu yang tidak pernah bisa kubalas penuh

 

Maaf. Maaf. Maaf.

Pani dan Angin

Pani, lelaki muda ingusan berkulit hitam dan gemuk

Besar kepalanya tapi sipit matanya. Kecil telinganya, lebar mulutnya!

 

Pani selalu bermain angin, tapi Pani bukan seorang yang cermat

Dia hantam badai, dia coba kangkangi puting beliung

Tapi bukan Pani kalau ia menang, bukan Pani kalau ia berhasil

 

Terpelanting. Hobinya.

Bukan karena lemah orangnya, tapi karena kecil nyalinya!

Ia selalu tengok kiri dan kanan, tak bisa tentukan pilihan: mana puting beliung yang paling menawan?

 

Lehernya seperti tak pegal membopong mulutnya yang kebesaran, terus tengok kanan kiri sementara nyali kecilnya sering jatuh dari dada dan menyandung kakinya

 

Tapi Pani bukan lemah, ia tetap seorang yang takdirnya mampu menantang angin

Saat yang lain berkubang di dasar, Pani melompat garang ke atas

 

Sekarang Pani telah tinggalkan angin besarnya, bosan katanya

Ia tantang angin sepoi, mencoba menahan kantuk sebisanya

 

Kini Pani terlelap. Angin sepoi terus berhembus. Ajak ia tidur, tidur, dan tidur. Sesekali diiringi angin besar yang hapus keringatnya. Oh dosanya kebebasan, oh racunnya dunia metropolitan.

 

Ini Waktuku, Ini Panggungku

Sofian, Sofian, itu nama panggilannya. Besar di sebuah keluarga tengah-kota

Tapi Sofian tak kaya, sedikit saja uang jajannya

Mandiri, berani, sendiri. Ia skeptis pada kemudahan jalan hidup, dan kesenang-senangan orang sekitarnya. Maka ia tak silau pada kesenangan saat itu. Ia pintar menggunakan apa yang ada padanya

Waktu bersabda, setiap milidetiknya, bahwa ia terus berjalan tak hentinya

Sofian tumbuh dewasa, kini ia remaja matang di gerbang pintu kemerdekaan

Sekolah usia, good bye prison

Ia masuki kampus ternama

Dan Ia berkata:

Kumasuki kampus ini dengan perjuangan
Aku lah yang berhak atas segala pendidikan dan kemasyhuran
Aku kaum papa!
Subsidi negara hak ku
Dan perjuanganku, tak satu pun tau perihnya
Maka ini waktuku, ini panggungku

(bersambung)

At Last, Data

6 bulan, 4 kantor. Akhirnya data juga.

 

Tau apa yang menarik dari pindah-pindah kantor? Banyak dari mereka yang bisa jadi pelajaran cerminan dari sifat kita sendiri. Atau, jadi tau kita terlalu sering melihat sikap orang dari sudut pandang kita.

 

Ngomong-ngomong, data pada akhirnya. Perkenalkan Pricebook, situs komparasi harga. Belum big data sih, tapi ya data.

 

Pricebook crawling data dari ribuan took online. Dari Lazada sampai Bukalapak.

Pricebook crawling data dari ribuan took offline. Dari Mangga Dua sampai Hartono.

 

Dia paling tau tentang naik turun harga. Dan kalau trafficnya makin besar, dia bisa punya sampel jutaan demand gadget dan elektronik dari jutaan rakyat Indonesia. Dan datanya real time. Consumer behavior lho.

Dari sesederhana harga Samsung paling murah dimana?

 

Hingga

 

Misal, handphone dengan ukuran layar berapa inchi yang paling laku? Sejak kapan? Bisa dikaitkan dengan apa?

Misal, saat pemilu, gadget apa yang paling laku?

Misal, lebih disukai mana Xiaomi atau ASUS? Dimana?

 

Itu teknologi. Suatu saat peneliti tidak perlu repot-repot lagi survay survey ulang dari awal, karena banyak teknologi yang membuat simpel, bahkan mendompleng langsung aktivitas konsumsi masyarakat. Data, pada akhirnya.