Ibu

Tidak ada barang yang sangat ibu di rumah yang kini terasa sangat kosong. Tidak ada sebuah peninggalan khusus nan berharga yang rasanya mau saya lindungi sampai mati.

Tidak ada yang sangat. Tidak ada yang lebih-lebih. Karena praktis, (hampir) semua barang adalah ibu. Baju yang melekat, celana yang melekat, tas yang dibawa, bantal, sofa, bangku, kasur, bantal, lemari, selimut, meja. Semuanya ibu.

Mana bisa tidak, dan mana bisa mudah. Untuk saya yang tidak sebegitunya ambisius, yang belum pernah percaya kalau memimpin dunia atau terkenal adalah panggilan, mudah berjalan begitu saja dan melanjutkan hidup. Saya pun belum pernah berkata juga pada diri sendiri bahwa membahagiakan ibu adalah cita-cita tertinggi. Tapi hidup saya bersama beliau. Cerita saya ada pada beliau. Rasa dan ketenangan saya ada pada beliau.

Terus hidup seperti apalagi yang perlu saya jalani, saya tidak tahu.

Dia pergi begitu cepat dalam perspektif saya. Dan ia pun pergi karena kelalaian saya.

 

Semua keburukan seperti datang bertubi-tubi, mewujud pada pribadi saya saat ini yang tutup telinga akan nasihatnya, dan memberikan sebuah luka teramat perih bagi keluarga saya yang kini tinggal berempat.

 

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

Rabbighfirli wali walidaia warhamhuma kama rabbayani shagira…

 

 

Akan kurindukan elusanmu di kepalaku

Pelukanmu yang hangat

Senyummu yang teramat manis

Cintamu yang tidak pernah bisa kubalas penuh

 

Maaf. Maaf. Maaf.

Pani dan Angin

Pani, lelaki muda ingusan berkulit hitam dan gemuk

Besar kepalanya tapi sipit matanya. Kecil telinganya, lebar mulutnya!

 

Pani selalu bermain angin, tapi Pani bukan seorang yang cermat

Dia hantam badai, dia coba kangkangi puting beliung

Tapi bukan Pani kalau ia menang, bukan Pani kalau ia berhasil

 

Terpelanting. Hobinya.

Bukan karena lemah orangnya, tapi karena kecil nyalinya!

Ia selalu tengok kiri dan kanan, tak bisa tentukan pilihan: mana puting beliung yang paling menawan?

 

Lehernya seperti tak pegal membopong mulutnya yang kebesaran, terus tengok kanan kiri sementara nyali kecilnya sering jatuh dari dada dan menyandung kakinya

 

Tapi Pani bukan lemah, ia tetap seorang yang takdirnya mampu menantang angin

Saat yang lain berkubang di dasar, Pani melompat garang ke atas

 

Sekarang Pani telah tinggalkan angin besarnya, bosan katanya

Ia tantang angin sepoi, mencoba menahan kantuk sebisanya

 

Kini Pani terlelap. Angin sepoi terus berhembus. Ajak ia tidur, tidur, dan tidur. Sesekali diiringi angin besar yang hapus keringatnya. Oh dosanya kebebasan, oh racunnya dunia metropolitan.

 

Ini Waktuku, Ini Panggungku

Sofian, Sofian, itu nama panggilannya. Besar di sebuah keluarga tengah-kota

Tapi Sofian tak kaya, sedikit saja uang jajannya

Mandiri, berani, sendiri. Ia skeptis pada kemudahan jalan hidup, dan kesenang-senangan orang sekitarnya. Maka ia tak silau pada kesenangan saat itu. Ia pintar menggunakan apa yang ada padanya

Waktu bersabda, setiap milidetiknya, bahwa ia terus berjalan tak hentinya

Sofian tumbuh dewasa, kini ia remaja matang di gerbang pintu kemerdekaan

Sekolah usia, good bye prison

Ia masuki kampus ternama

Dan Ia berkata:

Kumasuki kampus ini dengan perjuangan
Aku lah yang berhak atas segala pendidikan dan kemasyhuran
Aku kaum papa!
Subsidi negara hak ku
Dan perjuanganku, tak satu pun tau perihnya
Maka ini waktuku, ini panggungku

(bersambung)

At Last, Data

6 bulan, 4 kantor. Akhirnya data juga.

 

Tau apa yang menarik dari pindah-pindah kantor? Banyak dari mereka yang bisa jadi pelajaran cerminan dari sifat kita sendiri. Atau, jadi tau kita terlalu sering melihat sikap orang dari sudut pandang kita.

 

Ngomong-ngomong, data pada akhirnya. Perkenalkan Pricebook, situs komparasi harga. Belum big data sih, tapi ya data.

 

Pricebook crawling data dari ribuan took online. Dari Lazada sampai Bukalapak.

Pricebook crawling data dari ribuan took offline. Dari Mangga Dua sampai Hartono.

 

Dia paling tau tentang naik turun harga. Dan kalau trafficnya makin besar, dia bisa punya sampel jutaan demand gadget dan elektronik dari jutaan rakyat Indonesia. Dan datanya real time. Consumer behavior lho.

Dari sesederhana harga Samsung paling murah dimana?

 

Hingga

 

Misal, handphone dengan ukuran layar berapa inchi yang paling laku? Sejak kapan? Bisa dikaitkan dengan apa?

Misal, saat pemilu, gadget apa yang paling laku?

Misal, lebih disukai mana Xiaomi atau ASUS? Dimana?

 

Itu teknologi. Suatu saat peneliti tidak perlu repot-repot lagi survay survey ulang dari awal, karena banyak teknologi yang membuat simpel, bahkan mendompleng langsung aktivitas konsumsi masyarakat. Data, pada akhirnya.

Startup Kapitalis, Startup Sosialis

Disclaimer: Saya sendiri adalah pelaku start-up, meskipun cuma anak buah. Tulisan ini bukan propaganda, tapi refleksi dan harapannya kita semua bisa jadi lebih baik buat Indonesia dan rakyatnya tersayang.

Ingin sekali buat tulisan yang berbau ilmiah, karena topik yang dibawa ini butuh dari sekedar logika pribadi yang ada batasnya. Dan tanpa keilmiahan biasanya perasaan terlalu terefleksi pada tulisan, jatuhnya menghakimi, juga berantakan. Tapi sejak pindah ke Jakarta, buku-buku masih tertinggal di Jogja. Dan saya sudah malas jadi sok-sok intelektual. Maka mari dimulai saja diskusi kita, semoga ada manfaatnya.

Saya yakin banyak dari kita tidak tau apa itu kapitalis dan kapitalisme, sosialisme, komunisme, atau isme isme lainnya selain penafsiran propagandis yang enak dibaca dan sesuai kepentingan politik. Tolong koreksinya, tapi coba kita buat simpel dulu untuk kebutuhan tulisan ini. Mari lihat gambar ini untuk memulai:

sosialisme dan kapitalisme

Sebenarnya dalam banyak hal gambar di atas tidak terlalu kuat mewakili sifat masing-masing isme, menurut saya sih. Kapitalisme memang alamiahnya kerjaannya mengakumulasi kapital (modal) tapi bukan patungan seperti di gambar, melainkan akumulasi pada private yang menggalakkan private ownership. Setiap orang boleh kaya, punya uang sebanyak-banyaknya, dan dilancarkan untuk jadi kaya. Nanti mekanisme alamiah akan mengatur agar distribusi kekayaan terjadi, dibantu negara dikit-dikit lah tapi nggak juga sih ujung-ujungnya banyak.

Si sosialis di sisi lain bukannya tidak mengakumulasi kapital juga sih, tapi prinsipnya dari pada private ownership lebih ke common ownership. Dalam praktek misalnya kekayaan (dan kepemilikan) dikelola oleh negara supaya bisa dibagi-bagikan secara rata untuk semua orang. Dengan ini harapannya tidak ada akumulasi kekayaan pada satu orang aja karena semua berhak untuk sumberdaya (dan faktor produksi) yang bisa dipakai sesama.

Oke, begitu dulu sebelum saya makin membuat statemen yang jadi salah.

Kapitalisme si pengumpul ini punya kekuatan maha dahsyat, sampai Marx pun kagum. Memang ajaib si kapitalisme, dia ini juga fase mutlak dalam materialisme historisnya Marx. Untuk kenalan, gambarkanlah begini:

Dulu Pak Tani tinggal bahagia bersama keluarganya. Ia punya sawah sekian luas dan segerombolan sapi. Berapa kekayaan Pak Tani? Tidak tau, ceritanya ini belum kapitalisme. Pak Tani dan keluarga sarapan susu dari ternaknya, dan siang makan roti dari ladangnya, malam makan nasi dari sawahnya. Istrinya senang menjahit baju dan sepatu untuk keluarga. Saat butuh rekreasi mereka pergi ke sungai di desa sebelah untuk mancing dan berenang. Berapa pengeluaran bulanan Pak Tani? Tidak tau, kita belum masuk kapitalisme. 

Lalu datanglah feodalisme, ketika kerajaan bilang itu tanah mereka, maka kasih upeti dong ke raja. Berapa kekayaan Pak Tani? Boleh lah diukur-ukur, ini dia petani kakap. Definisi hektar diberikan dan kekayaan Pak Tani bisa diukur dari luas tanahnya yang tiap jengkal bisa diukur berapa hasil produksinya.

Lalu datanglah kapitalisme. Pak Tani, kalau hasil produksinya berlebih kita jual aja yuk. Nanti untungnya bagi dua. Pak Tani, udah mulai kaya nih, daripada istri jahit baju sendiri beli aja merek temen saya, dibuat dengan high quality lho. Pak Tani, ini anaknya mau berenang di kampung sebelah (istilah desa berubah jadi kampung karena lebih cocok untuk konotasi orang kota yang mahahebat), biar cepet pake delman saya aja murah kok, terus jangan lupa diongkosin soalnya sungainya udah ada yang beli dan tiap mancing juga bayar sewa. Pak Tani, bapak saya kasih uang segini juta, ini saya dapet dari investor di negara sebelah, tolong sawah diperluas ya pak itu beli aja sawah Pak Gurem biar kita aja yang urus, uang ini kita pakai juga buat beli traktor dan bibit Minsinti dan Kirgil biar hasilnya markotop pasti kita menang deh pake barang-barang ini. Pak Tani ini nganu, mahal sekali ya bayar tukang-tukang di tempat bapak, maaf deh kalo profitnya nggak gede ini saya males, saya mau pindahin investasi saya ke negara sebelah aja lebih murah pak, dan mmm karena saya bantu modalin bapak selama ini maaf ya traktor sama alat saya bawa dan juga teknik-teknik keren pertanian bapak sorry nih ya saya bawa ke negara sebelah juga. Hehe…

Datanglah kapitalisme, dengan segala keribetannya, kemewahannya, ke-fancy-annya, efisiensinya, lucu-lucunya, dan penderitaannya.

Mystery of Capital

Tersebutlah Hernando de Soto, ekonom kelas kakap jagonya kapitalisme yang asli orang Peru. Kita tau Amerika Latin ini termasuk ladang pertarungan paling berdarah antara Pak Tani dan Pak Bisik-bisik. Mungkin setiap negara pernah merasakan kudeta dan militer ikutaan terus sampe yang mati ada banyak, kemiskinan dimana-mana (dan itu yang buat mereka bisa bikin lagu super keren ini). Tapi de Soto tidak mainstream, dia adalah intelektual kapitalisme yang luar biasa.

Maaf buku pinjeman saya tentang Mystery of Capital ada di Jogja, jadi bisa jadi ini kurang komprehensif. Dalam buku masterpiece-nya, de Soto mengajukan satu pertanyaan paling penting: kenapa kapitalisme tidak sukses di negara berkembang? Tidak sukses gmana? Karena masih banyak kemiskinannya, kemajuannya tidak komprehensif dan sebesar negara-negara maju. Tercetuslah kemudian hasil penelitian de Soto di berbagai negara berkembang. Ternyata menurut dia, permasalahan utamanya adalah besarnya dead capital, kapital yang mati.

Apa itu dead capital? Yaitu potensi modal dan keuangan yang sebenarnya ada di masyarakat tapi tidak teraktivasi secara baik dalam sistem kapitalisme. Aktivitas ekonomi informal di negara berkembang menurut de Soto lebih besar daripada pinjaman luar negeri manapun. Kalau dihitung dengan baik, transaksi dan keuangan dari tukang ojek (yes, tukang ojek!), pedagang kaki lima, batu akik, warteg, padang, dan lain-lainnya itu sebenarnya sangat-sangat besar. Potensi uang gila-gilaan ini terhambur begitu saja dalam ekonomi informal tanpa tercatat dengan baik, tanpa dokumen, dan tidak masuk dalam aktivitas proses kapital.

Masalahnya? Kalau uang-uang beredar dan aktivitas ekonomi itu tercatat dalam bentuk formal dan ada dokumennya, dokumen itu sendiri bisa punya nilai ketika diajukan untuk pinjaman, untuk diinvestasi, dan lain-lainnya yang kapitalis. Para kapitalis terlalu fokus pada ekonomi gaul-gaul sementara banyak uang yang masih beredar di sektor kere, dan potensi pengelolaan ini kalau digabung dengan aktivitas keuangan kakap bisa jadi epic, menambah kekuatan untuk investasi dan diinvestasikan. Dan tentunya kalau tergabung dalam klub kapitalisme, Pak Bisik-bisik bisa menawarkan teknologi baru dan metode ciamik biar potensinya makin berkembang seperti yang dialami Pak Tani.

Nah gmana, terbaca arah diskusinya?

Halo, Para Kapitalis

Kamu, iya kamu. Hei kamu kapitalis. Terima kasih atas keajaiban dan kemajuan. Tanpamu tidak ada gedung tinggi, mungkin kita tidak bisa ke luar angkasa, tidak ada hotel bawah laut yang indah luar biasa, atau kontes kecantikan yang mengoleksi perempuan-perempuan cantik. Karena gedung tinggi dibuat ketika perusahaan sudah segitu profitnya dan siap dengan ekonomi harga tinggi untuk beli tanah gedung dan AC. Karena keluar angkasa adalah pencapaian saintifik dengan uang besar yang hanya bisa dilakukan ketika ada uang berlebih dan rakyat (mungkin) sudah kenyang. Karena hotel bawah laut selain harganya mahal, hanya bisa dibayar oleh mereka yang kaya karena kerja di perusahaan yang mengakumulasi kapital. Karena konten kecantikan disponsori oleh perusahaan-perusahaan kapitalis. Terima kasih ya.

Mungkin kita (di startup) sulit untuk hadir dan eksis tanpa kapitalisme, tanpa kebutuhan dari sektor bisnis, militer, dan keamanan untuk komunikasi yang lebih baik dan cepat. Tapi sejarah penemuan paling mendasar, sebaca saya dari cerita-cerita, tidak berasal dari akumulasi kapital tapi passion. Begitu kan sebagian big player di industri startup bisa muncul. Bootstraping, dari garasi, kecil jadi besar dan mengisahkan perjuangan memutarbalikkan takdir. Meskipun ujung-ujungnya masuk dalam kepentingan kapitalis juga demi funding.

Mari kita buat lingkungan kita layaknya industri passion, bukan hanya kapital. Mungkin kita jangan terobsesi dengan traction traction itu kalau hanya untuk nanti dijual atau dapat funding. Juga ayo berhati-hati dalam mengeksploitasi pihak lain menggunakan teknologi yang bisa melipatgandakan kapitalisme jahat dalam sendi kehidupan Indonesia. Misal, dengan gold rush eksploitasi ekonomi informal yang ada sekarang ini, berlomba-lomba mengonsolidasikan kekuatan para kere untuk nilai plus yang bisa kita dapat dari menjualnya ke kelas menengah dan kaya. Keren sih, dan cukup mulia. Tapi seperti ilustrasi di atas, kecenderungan kapitalisme untuk eksplotasi berlebihan bisa menciptakan efek macem-macem, seperti sekarang ini kesenjangan sosial yang mulai mencuat dari para pekerja informal yang tadinya bersaing sehat tapi jadi berselisih karena teknologi yang baik tapi tak mungkin dinikmati semua.

Satu dua bisnis bisa baik, lalu yang lain ikutan dan asal-asalan, tanpa pendekatan keilmuan yang cukup, yang sialnya melakukan klaim untuk branding sebagai ‘usaha sosial’ padahal eksploitatif. Dengan alasan kebebasan dan sharing economy kita ciptakan buruh-buruh baru tanpa jaminan sosial dan bubble yang membawa nasibnya ke dunia permodalan global. Hati-hati..

Tulisan ini dibikin gantung dulu saja ya, capek juga.