Transformasi

Advertisements

Sepotong Lagu untuk Bang Jek

Malam larut pukul 23. Jon baru pulang dari kantor setelah lembur berkepanjangan. Ini hari Jumat, hari terakhir kerja. Besok akan memulai 2 hari segala hal berbau profesi bisa dibuang jauh-jauh. Dan layaknya orang seusianya, Jumat adalah hari deadline. Kerjaan harus menumpuk.

Terbayang oleh Jon suara dan bau gerobak nasi goreng di bawah sana. Dengan bumbu acakadut dan teknik menggoreng ala-ala, dalan hitungan menit nasi goreng tek pinggir jalan siap disajikan. Baunya semerbak, batin Jon. Tetapi kewajibannya membantu rekan-rekannya

Monster

Beberapa orang memang menjalani takdir sebagai orang yang lebih mencolok dan lebih dekat dengan kemasyhuran. Orang-orang ini didefinisikan dan dikonseptualisasi jalan hidupnya oleh para motivator serta penulis. Ada yang bilang mereka outliers, inovator, atau alpha. Tetapi saya selalu menggunakan julukan yang sama untuk orang seperti mereka yang saya temui di berbagai tempat. Saya juluki mereka dengan julukan monster.

Ciri-ciri Monster

Monster itu besar dan menakutkan. Sangat kuat, menimbulkan rasa ngeri, dan tidak terbendung. Seperti itulah impresi saya pada orang-orang extraordinary tersebut. Orang-orang ini mengambil profesi masing-masing: ketua LSM, akademisi, olahragawan, hingga CEO. Dan dalam menjalaninya mereka tanpa bergeming siap mendobrak dan menabrak, menghancurkan tatanan bila perlu, dan melakukan yang tidak biasa dilakukan orang lain. Ya seperti monster.

Satu ciri monster yang paling dominan, bagi saya, adalah determinasi super tinggi. Monster tidak biasa mundur dan terlalu menyukai tantangan

Identitas Kerja

Beberapa waktu lalu saya berbagi tulisan tentang keinginan menghapus work-life balance. Akan tetapi baru belakangan sebenarnya saya lebih paham makna dari fantasi iseng tersebut setelah merefleksikan beberapa fakta dunia kerja di sekitar.

Kerja itu begitu dominan dalam hidup manusia hingga punya pengaruh besar dalam mendefinisikan identitasnya. Identitas manusia paling dasar biasanya adalah namanya. Nama mewakili sebuah atribut diri yang paling personal. Nama merepresentasikan sebentuk makhluk yang dilabeli nama tersebut. Biasanya mewakili sebentuk fisik tertentu. Kerja di sisi lain merupakan identitas pelapis nomer dua. Kerja memberikan atribut identitas satu lagi bagi seorang manusia yang merupakan representasi dari dirinya.

Ilustrasinya begini. Kalau kita bertemu orang, tentu akan mudah bagi kita untuk memperkenalkan nama, karena itu merupakan representasi dari diri kita. Kemudian untuk membuat orang memahami siapa kita, kita tentunya alih-alih menyebut hobi, buku kesukaan, atau bahkan agama, kemungkinan kita kan menyebutkan seperangkat identitas yang menjamin kredibilitas kita sebagai manusia. Bisa jadi asal daerah, bisa jadi meskipun hampir mustahil asal pendidikan, tapi yang paling mungkin adalah profesi. Saya bernama X, bekerja sebagai Y di Z. Itu adalah bentuk perkenalan yang standard.

Identitas kerja memang kuat, identitas itu merepresentasikan sebentuk entitas makhluk tersebut. Akan tetapi, apa identitas tersebut memang benar-benar seegitu powerfulnya? Work-life balance pada dasarnya konsep yang mengurangi kekuatan identitas tersebut. Dalam work-life balance yang diterapkan, ketika selesai kerja, seseorang menanggalkan identitas profesinya di kantor. Ia bukan lagi seorang misal Marketing Officer atau Finance Manager, tetapi ia murni seorang bernama X, anggota keluarga V. Bisa jadi profesinya masih terbawa ketika disebut-sebut di sekitar keluarga atau lingkungan, tetapi aktivitas yang mengidentifikasi bagian identitasnya tersebut sudah hampir 100% ditanggalkan.

Saya pada dasarnya menolak konsep tersebut dengan alasan bernama passion.

Saya menyukai bidang pekerjaan saya. Maka ketika keluar dari jam resmi kantor, saya sejatinya masih membawa identitas kerja saya. Ketika saya pulang naik ojek, saya seorang Marketing yang sedang jalan pulang dan saya melihat sekitar dengan perspektif seorang marketing tersebut. Saya melihat iklan, bukan hanya dalam artian terhibur dengan kreativitasnya, tetapi juga melihat dalam perspektif seorang praktisi periklanan dan marketing perusahaan yang mencari strategi terbaik dalam beriklan. Ketika saya berkenalan dengan orang, saya seorang marketing yang akan selalu mencoba menyambungkan keberadaan orang tersebut dan kebutuhan perusahaan. Ketika saya membuka timeline socmed, secara tanpa sadar saya akan memenuhi newsfeed dengan kabar teknologi, bisnis, dan seputar marketing sehingga waktu sosial saya pun ada kaitannya dengan profesi. Lalu saya akan copy link sana sini, skrinshot sana sini, dan share sana sini, kapan saja, sebagai bagian tak putus dari identitas profesi saya.

Ketika mengampu posisi tertentu, saya 100% mendalami posisi tersebut. Ketika di kantor secara resmi, di rumah, di jalan, dan dimana-mana. Bahwa saya 100% orang yang sedang berada di profesi tersebut dan akan 100% mencoba maju dengan profesi tersebut. Tanpa batas-batas, tanpa formalitas.

Kebencian dan Prasangka

Konon katanya masalah terbesar dan paling merusak di dunia ini adalah masalah prasangka. Mengapa antar negara berperang, antar kampung berkelahi, antar teman berselisih, alih-alih karena masalah dasarnya lebih banyak karena prasangkanya. Masalah dasarnya kecil, tetapi interpretasinya yang luar biasa.

Tidak hanya akibat langsung berupa konflik, prasangka juga menimbulkan akibat-akibat tidak langsung yang kemudian membangun relasi yang tidak seimbang dan menjadi akar dari ketidakadilan. Ini seperti yang berusaha dibahasakan oleh Karl May dalam roman sejarahnya yang berjudul En Friede Auf Erden.

Karl May berkisah bahwa antar bangsa selalu ada prasangka. Bangsa barat memprasangkai bangsa timur sebagai terbelakang secara keseluruhan. Bangsa timur memprasangkai bangsa barat sebagai penjahat juga secara keseluruhan. Prasangka yang terus saling dipupuk ini memutuskan jembatan yang bisa dibangun sebagai pemahaman antar bangsa sehingga melestarikan penjajahan dan menimbulkan dendam.

Prasangka, pada akhirnya, menimbulkan benci.

Benci kata Freud berarti “an ego state that wishes to destroy the source of its unhappiness”. Kalau ini kata Freud, berarti dalam benci harus ada sumber ketidakbahagiaan. Dan ketika Freud sendiri suka bilang kalau manusia tidak bisa menemukan kebahagiaan sejati karena adanya peradaban, sebenarnya benci adalah fitrah dari seorang manusia.

Benci sayangnya seperti kita rasakan sehari-hari juga muncul dari beberapa hal khusus. Dalam konteks benci yang sifatnya sosial, ideologi adalah pelaku utama sumber kebencian tersebut. Ideologi yang mengumpulkan gagasan-gagasan dunia yang ideal, yang dikejar para idealis sebagai their source happiness, menjadi landasan bagi para idealis untuk menemukan sumber-sumber ketidakbahagiaan yang baru. Apa-apa yang mengahalangi dunia idealnya, ideologinya, adalah musuh-musuh kebahagiaan yang perlu dibenci.

Dan dalam selimut ideologi tersebut, para pembenci melakukan beberapa hal seperti:

  • Overgeneralization. Sang pembenci menggunakan logika gothak gathuk untuk membesarkan satu kasus dan melakukan generalisasi kasus tersebut sebagai kesalahan fatal dan total. Karenanya mudah bagi pembenci untuk mengukuhkan kebenciannya.
  • Read the thought. Pembenci selalu merasa bisa membaca pikiran lawannya. Prasangka itu. Pembenci merasa yakin bahwa lawannya berpikir hal-hal yang pastinya merugikan ia, menambah alasannya untuk memebnci.
  • Emotional reasoning. Pembenci selalu menganggap persepsinya yang paling utama dan benar dan merupakan realitas. Kalau emosinya merespon, itu pikiran yang diikuti.
  • Maximalisasi & Minimalisasi. Pembenci memilah dengan baik mana yang perlu dibesar-besarkan dan mana yang perlu dikecil-kecilkan saja.
  • Katastropikisasi. Bagi pembenci, masalah apapun akan menjadi masalah paling besar, paling bencana. Keunggulan lawan akan berarti kekacauan alam semesta, bahaya kuadrat, yang perlu segera diselamatkan dengan aksi heroiknya.

 

Dari karakter benci tersebut, sudahkan Anda melakukan keempatnya sekaligus?