Rugi Investasi di Vestifarm (Emang Guenya Nggak Hoki) – Growpal, iGrow, dan Lainnya

Disclaimer: Judul di atas merupakan saran seorang teman juragan timur tengah yang udah tajir mampus tapi investasinya untung di Vestifarm.

Yap, tulisan ini ditargetkan untuk SEO. Saya coba googling keyword yang ada di judul artikel ini dan tidak menemukan hasil yang memuaskan di SERP Google. Saya juga sempat coba keyword yang sama untuk Growpal dan tidak ada juga. Sepertinya jarang yang mau repot review ya? Padahal ini penting sekali.

Tapi artikel ini memang bukan hanya clickbait. Saya memang investor di Vestifarm, dan memang rugi. Di bawah ini saya mau sharing pengalaman rugi saya tersebut dan hal penting yang menurut saya harus diperhatikan bagi siapapun yang berinvestasi di bidang agrikultur yang saat ini penuh bunga-bunga retorika anak muda kekinian.

Dan bunga-bunga itu melahirkan fans berat para crowdfunding platform. Nah sebelum Anda terbawa suasana tolong lanjut baca dengan pemahaman ini ya: Yes, namanya investasi pasti bisa rugi. Mau Vesti, mau xGrow, GrowBro, saham, real estate, dan lain2, kemungkinan rugi itu pasti ada. Yang penting dari tulisan saya adalah untuk menjadi lampu kuning saja di tengah gairah investasi kekinian terutama yang berpusat di bidang agroindustri. Ini pengingat buat Anda bahwa industri ini sejak awal penuh resiko tidak seperti copywrite manis para penjaja platform. Dan karenanya kalau Anda rugi, Anda jangan ilfil dan sensi dengan agroindustri. Industri ini tetap penting, tetapi diisi orang baik dan bersemangat. Kita harus dukung supaya maju terus. Takbir! Syahadat!

Jadi Ceritanya..

Saya investasi di Vestifarm tahun 2017 ini, tepatnya pada waktu jelang idul adha. Investasi sapi jelang idul adha memang menggiurkan karena harga sapi cenderung naik dan permintaan pasti besar. Akan tetapi, waktu itu Vestifarm gagal untuk: (1) menjaga survival rate dari sapi; dan yang utama (2) menjual sapi tepat waktu di harga yang tepat.

Walhasil, investasi saya rugi. Agak bete sih karena banyak teman lain yang tanpa platform alias ke teman sendiri saja pada untung. Lalu ada satu hal yang mungkin bagus, tetapi entah kenapa bikin kesel: waktu ada kematian sapi, mereka memberikan “asuransi” yang sayangnya diberikan dalam bentuk saldo yang hanya bisa digunakan untuk investasi lagi di Vestifarm. Padahal saya sudah tidak percaya lagi pada Vestifarm waktu itu. (Salah satu email cantique-nya ada di comment)

Ini saya lho, belum tentu Anda, belum tentu yang lainnya. Katanya sih sukses. Klaim mereka salah satu investasi udang mereka benar-benar mencapai ROI >30%. Dahsyat kan, hehe.

Udah segitu aja tentang Vestifarm. Dikit ya? Jahat ya judulnya hehe.

Oke saya tambahkan satu pengalaman lagi yaitu investasi di petani ikan nila di platform yang saya nggak tega untuk sebut. Di awal investasi, platform tersebut menjanjikan periode yang cuma 6 bulan. Akan tetapi menjelang 6 bulan tiba-tiba ada perpanjangan kontrak 6 bulan lagi. Tahu nggak, setelahnya sampai sekarang pun masih ada uang saya yang nyangkut meskipun sudah ada pengembalian parsial sekitar 50%. Kabarnya investasinya rugi padahal janji ROI-nya sebelum ini di atas 20%. Petaninya sudah sukses belasan tahun, domisilinya di sentra nila terbesar di Jawa Tengah yang punya opsi ‘ekspor’ ikan ke Papua yang dihargai hingga di atas Rp 100 ribu/kg. Kurang apa lagi coba? KURANG HOKI LAH.

Pengalaman kurang enak ini sebenarnya tidak segitu nggak enaknya, karena saya sendiri bekerja di industri makhluk hidup. Saya paham resikonya. Dan karena itu untuk mengingatkan para penikmat gairah investasi di agroindustri, berikut beberapa hal yang saya anggap penting untuk diperhatikan saat ingin berinvestasi:

  1. Jangan kayak saya yang nekat aja investasi karena saya percaya aja sama anak-anak rohis. Nggak bakal bawa lari uang lah minimal. Hahaha. It’s a joke.
  2. Investasi di agro memang menarik. Ada rasa kepuasan tersendiri karena merasa melakukan ‘impact investment’. Tapi eh nanti dulu. Impact seperti apa sih? Perlu diketahui terlepas dari embel-embel ‘social blabla’ platform tersebut tidak sebegitu sosialnya. Memang mereka membantu menggairahkan agroindustri, tetapi just a fraction dibandingkan modal raksasa dari pemain-pemain utama di agroindustri.Dan terutama klaim soal social impact. Apa iya benar-benar membantu petani dan ekonomi rural? Cek dulu. iGrow misal menanam di kebun yang sudah profesional, bukan fokus pada petani kecil (setau saya dulu begitu, ada update?). Vestifarm di awal punya kandang sendiri, dan saya kurang paham sekarang mereka pakai petani mana, dan kelihatannya bukan petani kecil. Growpal jelas terlibat di petani-petani besar (meskipun Growpal tidak terlalu klaim soal impact kalau tidak salah). Jadi investasi kita membesarkan para pemain yang ada, tidak langsung membantu perekonomian rural atau petani kecil yang kita tahu hidupnya kurang sejahtera.
  3. Dan poin ini yang paling penting. Seperti saya sebutkan di atas, ini industri makhluk hidup. Makhluk hidup sesuai namanya, bisa mati. Selain mati, makhluk hidup juga merupakan komoditas yang terus berproses dan karenanya mengandung beberapa risiko ekstra. Beda dengan emas misalnya yang sudah jadi emas dari sononya, makhluk hidup harus tumbuh dulu untuk memiliki nilai yang dapat menguntungkan. Dalam proses tumbuh itulah mereka bisa mati, bisa sehat, atau bisa kuntet alias nggak tumbuh-tumbuh, bisa mismanajemen dan boros pakan, bisa hilang dicuri orang, dan lain sebagainya. Jadi it’s very risky.Di perikanan, tambak udang bisa rugi milyaran saat virus tiba-tiba masuk ke tambak dan membunuh para udang. Di ikan nila juga ketika waduk terjadi upwelling. Di perikanan lele, bisa juga uangnya ditilep sama pegawainya atau ikannya dicuri. Menurut saya adalah bullshit untuk coba-coba mengatakan investasi di industri makhluk hidup adalah low risk. Bahkan untuk sewa lahan sekalipun. Memang benar mungkin lahan lebih aman karena pengguna lahan bisa berganti ketika yang satu bangkrut. Tapi siapa bilang lahan pun awet. Di pertanian, lahan bisa dianggap  tidak subur lagi setelah lama digunakan dan ada mismanajemen yang merusak unsur mikro makro dalam tanah. Di tambak udang, tidak selamanya kondisi air dan kolam akan bagus terutama bila biosekuriti tambak tidak maksimal. Kualitas air laut di sekitar akan menurun untuk tambak yang optimal. Dan sekalinya ada wabah seperti WS, WFD, maka petambak lain sungkan mau menggunakan tambak itu lagi dan bahkan area sekitarnya. Ngeri kan?
  4. Di industri ini pula pengelola makhluk hidup tersebut menjadi faktor kunci. Tidak hanya menjaga mereka supaya tidak mati, tetapi menjaga mereka tumbuh optimal. Margin untung-untung yang bisa didapatkan sangat berpengaruh dari faktor ini. Pertama, bagaimana mereka efektif dan efisien dalam pengelolaan. Misal, dalam pemberian pakan yang optimal sehingga makhluk hidup tumbuh cepat, gemuk, dan bisa segera layak jual. Kedua, bagaimana mereka menguasai pasar bagi komoditas yang mereka kelola. Harga bahan pangan ini cenderung fluktuatif, elastis. Beda tempat beda harga, beda ukuran beda harga. Ada krisis harga bisa turun. Ada banjir produk dari tempat lain, harga drop lagi. Ditahan dulu supaya tunggu harga naik, eh mereka harus dikasih makan dan harus tinggal di lahan yang berarti biaya akan keluar terus. Bagaimana lagi kalau mentrinya lagi jail impor. Impor lele misal? Kompleks kan?

 

Jadi, memang menggiurkan tawaran-tawaran itu. ROI besar, temponya cepat. Wah sekali. Tapi nggak sesederhana itu. There’s a huge risk. Saya pribadi selain rugi di Vestifarm juga rugi di platform lain yang menawarkan investasi di budidaya air tawar (yang tadi saya ceritakan). Sampai sekarang buah2an saya di iGrow juga belum panen setelah sekitar 2 tahun. Jadi masih belum pasti apa saya untung apa tidak.

Yang jelas, tetap hati-hati, tetap kritis. Jangan terlalu happy dengan kata-kata manis anak-anak muda kota yang sebenarnya baru mulai kenalan juga dengan seluk beluk industri 😀 Coba cek aja para founder platform tersebut apa memang sudah lama di industri? Kalau sudah, itu bisa jadi poin bagus untuk mempertimbangkan investasi di platform tersebut. Bisa jadi mereka memang paham.

Beberapa tips yang bisa diperhatikan untuk investasi di agro, khususnya perikanan:
1. Apakah komoditasnya punya nilai ekspor bagus? Apabila iya, maka akan cenderung aman.

2. Apakah komoditasnya termasuk ke dalam pengelolaan profesional? Karena kalau tidak, ada beberapa resiko seperti panennya buruk atau kondisinya jelek sehingga tidak mendapat izin perdagangan dari badan karantina. Contoh: Udang vannamei profesional, udang windu sering tradisional.

3. Apakah platform yang menjajakan produk akrab memiliki tim di lapangan yang memverifikasi sendiri dari waktu ke waktu pihak yang diinvestasikan (investee)

4. Apakah wilayah dimana budidaya berlangsung aman dari segi lingkungan, masih menjadi tren lokasi budidaya, dan termasuk aman dari resiko bencana alam. Contoh: Budidaya udang di Jateng Utara tidak seramai Jawa Barat

Itu sedikit review saya. Mohon kalau ada pihak Vestifarm, iGrow, atau platform lain yang membaca berkenan untuk comment apabila ada salah, atau ada data pembanding. Saya siap merevisi karena artikel ini tujuannya baik. Buat yang membaca ini juga harap memperhatikan kolom komen. Perlu saya tekankan juga saya hanya salah satu investor dari sekian banyak opportunity yang ditawarkan para platform tersebut. Jelas pasti ada produk berbeda, di waktu berbeda, dengan hasil yang berbeda pula. Yang ingin saya sampaikan sekali lagi hanya: hati-hati, jangan overhappy, selalu berinvestasi dengan terukur.

Update (Mei 2018):

Eh, gmana kalau kita rame-rame sharing hasil investasi kita di platform-platform tersebut?

Mungkin bisa mulai di kolom komen. Share aja: Platform, Komoditas, Judul Investasi, Janji Siklus – Realisasi, Janji ROI – Realisasi

Jadi kita bisa sama-sama analisis platform mana yang oke dan seberapa akurat janji mereka alias estimasi mereka sendiri terhadap produk-produk finansialnya.

Contoh:

iGrowfarm, Investasi Vannamei Pacitan II, 6 bulan – 8 bulan, 25% – 12.5%

Kumpulan Testimoni:

– iGrow | Akar Wangi, 15%, berhenti dan modal kembali (termasuk info invest pisang)

– Vestifarm | Udang, +3% karena ditanggulangi platform | Udang, rugi 21% karena tidak ditanggung

Advertisements

Ayam Geprek yang Asli itu dari Jogja

Tulisan ini hanya sebagai pengingat kalau ayam geprek yang asli itu ada di Jogja.

Sayangnya tulisan ini dibuat di tahun 2017. Tetapi apabila belum ada tulisan lain yang menyatakan asal usul, biarkan tulisan ini menjadi catatan sejarah di masa depan kalau:

AYAM GEPREK ASLI ITU DARI JOGJA.

Ini kesaksian saya sendiri, penikmat ayam geprek sejak tahun 2009. Alkisah rekan saya dari jurusan HI UGM angkatan 2007 mengajak menikmati kuliner tersebut yang ada di daerah Deresan. Namanya Bu Rum, Ayam Geprek Bu Rum. Lokasinya di pinggir jalan, menggunakan tenda, di sebuah wilayah semi-komplek yang sepi. Ayam geprek asli dari Bu Rum adalah ayam goreng tepung yang digeprek di atas cobek dan dicampur dengan cabai, garam serta terasi dan tomat kalau mau. Orang bisa bebas meminta jumlah cabai untuk digeprek bersama ayam. Saya hanya bisa sekitar 10. Istri saya sudah biasa di atas 50. Sambil mengantri ke penggeprekan, kita bisa mengambil nasi dan memilih sayur dari etalase. Ayam pun kita pilih sendiri, untuk kemudian disetorkan ke tukang geprek, dan kemudian digeprek sesuai selera.

Saya lupa di tahun berapa Bu Rum mulai buka cabang. Salah satunya di foodcourt sebelah Sanata Dharma. Kemudian kalau tidak salah ada di satu-dua tempat lagi. Perlu diketahui, Bu Rum berbeda dengan Mas Kobis (Mas Kobis asli ada di sebelah FT UNY, jangan tertipu). Setelah buka cabang di foodcourt, saya cukup sering berbelanja geprek di situ. Lebih luas, agak lebih sepi.

Itulah ceritanya ayam geprek.

Jangan tertipu. Bahasa geprek sendiri jawa kan? Jangan tertipu para artis pula. Hargai karya cipta.

Nayonaise

Cita-citaku dari dulu begitu: menggendongmu keliling rumah, masak mie, dan peluk2an bareng lama-lama. Tapi kamu sekarang sangat berat, dan aku kekurangan otot. Berguling saja mungkin cukup sampai suatu saat kamu berhasil diet, dan aku berhasil tambah kuat.

Kamu tau apa yang aku paling suka darimu? Kamu yang apa adanya, bocahmu itu. Makanya aku kadang cemburu kalau di luar kamu pun bermanja-manja. Yang itu buatku aja.

Kita mungkin tak akan pernah dewasa selama kita masih berdua. Tidak dewasa di dunia yang kejam ini berbahaya. Dunia yang semakin tua, makin cranky, suka atur-atur, dan kolot. Tapi biarlah mereka menua, kita memuda. Sampai usia tua, sampai keriput, kita akan tetap tertawa berguling di kasur, merebus mie, menonton, dan insyaAllah aku (akan) masih kuat menggendongmu. Biar yang lain menguasai dunia, bagi kita yang paling penting kita kuasai kasur empuk kita. Aku kamu, dan nanti mereka yang lucu. Di kamar kita, kerajaan kita.

Selamat 1 tahun Nayonaise-ku.

Saya Pun Dulu Begitu

Ada beberapa daftar hal yang saya rasa wajib diajarkan ke anak-anak saya nanti. Akhir tahun ini daftar tersebut bertambah satu hal: sedikit-banyak, apapun yang kau lakukan akan kembali padamu dengan berbagai cara, dan itu hampir pasti.

Selama 2015-2016, secara hitungan kasar saya pernah berada di setidaknya 6 perusahaan. Memang seru sekali petualangan di masa itu. Ada perusahaan yang cuma 2 bulan saya bergabung lalu resign. Ada perusahaan yang saya ikut bangun selama kurang lebih 3 tahun lalu saya tinggal. Macam-macam memang. Masing-masing tentunya punya rasa lekat tersendiri.

Ada satu perusahaan yang dengan hanya bertiga saya dan tim menangani perusahaan besar. Sangat exhaustive, berat, dan deg-degan. Karena satu dan lain hal setelah hanya beberapa bulan saya memutuskan resign saja. Tim yang mulai kompak saya tinggalkan dan semua saran untuk tidak pindah kantor saya tolak, termasuk saran dari rekan terdekat saya di perusahaan tersebut. Saya katakan: buat saya keputusan sudah bulat, sudah saya ucap. Saya tidak boleh menarik apa yang sudah saya ucap. I am an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan saya ada yang mengatakan hal yang sama ke saya.

Lalu kemudian ada satu perusahaan yang CEO-nya begitu baik. Dia begitu royal membagi ilmu dan begitu percaya memberikan saya berbagai tanggungjawab besar. Tidak hanya itu, dia memproyeksikan karir panjang bagi saya di perusahaannya. Kalau saya pernah punya mentor dalam hidup saya akan bilang mentor saya dia. Dia mengajarkan hal-hal dasar: attitude, mindset kerja, sikap profesional, softskill, mentalitas, dan hal-hal bermanfaat lainnya. Karena satu dan lain hal saya minta resign untuk pindah ke perusahaan yang menurut saya lebih damai. Segala obrol rayu saya tolak, begitu juga saran dari rekan-rekan lain yang saya curhatkan. I want to live in peace, I want to be an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan yang saya anggap “anak didik” sendiri melakukan hal yang sama ke saya.

Tahun ini semua berbalik dan menyisakan sedikit tanya: Apa sudah semua? Apa sudah lunas?

Pada mereka yang lewat dalam hidup kita, kita memang akan selalu berkaca. Orang-orang sering kali memang hanya refleksi dari apa yang kita lakukan sendiri. Dari mereka kita ambil sejumput pesan. Dan kita berikan hal yang sama. Kita saling menatap, saling bercermin.

….

Untuk mereka yang pergi saya berikan lagu ini. Kebetulan lagu ini dinyanyikan seorang pengamen ketika saya merenung sambil menanti travel untuk pulang dari Bandung. Tak selalu tapi bisa, dunia profesional pun menjadi dunia yang romantis.

“Namun bila kau ingin sendiri, cepat-cepatlah sampaikan kepadaku. Agar ku tak berharap dan buatmu bersedih..”

Monster

Beberapa orang memang menjalani takdir sebagai orang yang lebih mencolok dan lebih dekat dengan kemasyhuran. Orang-orang ini didefinisikan dan dikonseptualisasi jalan hidupnya oleh para motivator serta penulis. Ada yang bilang mereka outliers, inovator, atau alpha. Tetapi saya selalu menggunakan julukan yang sama untuk orang seperti mereka yang saya temui di berbagai tempat. Saya juluki mereka dengan julukan monster.

Ciri-ciri Monster

Monster itu besar dan menakutkan. Sangat kuat, menimbulkan rasa ngeri, dan tidak terbendung. Seperti itulah impresi saya pada orang-orang extraordinary tersebut. Orang-orang ini mengambil profesi masing-masing: ketua LSM, akademisi, olahragawan, hingga CEO. Dan dalam menjalaninya mereka tanpa bergeming siap mendobrak dan menabrak, menghancurkan tatanan bila perlu, dan melakukan yang tidak biasa dilakukan orang lain. Ya seperti monster.

Satu ciri monster yang paling dominan, bagi saya, adalah determinasi super tinggi. Monster tidak biasa mundur dan terlalu menyukai tantangan