Dokter Spesialis Anak Jakarta

Meskipun sudah sangat banyak artikel dan forum tersebar, tetapi adanya ulasan blog selalu berarti lebih untuk orang-orang yang sedang mencari referensi dokter terbaik.

Kesehatan bukan urusan remeh soalnya. Kondisi present-nya, yang sakit dalam kondisi menderita. Kondisi future-nya, entah apa yang akan terjadi kalau tidak segera ditanggulangi. Jadi mencari dokter itu memang bisa membuat sangat stres dan melelahkan.

Tapi jangan khawatir. Karena sakit apapun yang menyembuhkan itu Allah. Jadi pilih dokter mana aja juga santai aja sih. Hehehe.

Becanda deng.

Saya termasuk yang kurang ikhlasan orangnya, jadi masih kurang pasrah lillah terkait hal-hal yang masuk dalam domain Tuhan. Termasuk soal dokter ini. Dulu waktu istri hamil juga ada momen dalam 3 hari saya ke 3 dokter berbeda karena tidak mau percaya dengan hasil diagnosisnya.

Karena itulah perjalanan saya mencari dokter anak dimulai. Saya menulis ini pada Desember 2018, belum 1 bulan anak saya lahir. 3 dokter pertama yang saya tulis di sini akan menjadi 3 dokter yang saya temui 1 bulan ini. Berikutnya akan saya lanjutkan terus kalau memang ada dokter lagi. Akan saya lampirkan juga beberapa blog-blog lain yang informatif dan menginspirasi supaya memudahkan siapapun yang pada akhirnya menemukan tulisan ini.

Pokoknya tulisan ini sebaiknya menjadi bacaan master Anda dalam mencari dokter spesialis anak. Buka ini dan referensi-referensinya, lalu buktikan sendiri di lapangan. No googling-googling lagi, no stres lagi. Semoga.

Bagaimana Cara Memilih?

Menurut saya, prinsip dasar memilih dokter anak itu adalah mengetahui kalau yang paling pertama adalah soal memahami anak dan cara merawatnya. Jadi urusan dengan dokter bukan cuma urusan sakit-sembuh seperti kita biasanya. Prinsip ini mirip-miriplah sama dokter obgyn.

Mengurus anak itu merupakan masalah dengan domain unknown-unknown. Ini adalah masalah paling complex, chaotic. Kita tidak tau apa yang kita tidak tahu. Berbeda dengan kita yang dewasa, urusan kesehatan kita biasanya hanya mencakup domain complicated alias known-unknown, kita tahu apa yang kita tidak tahu.

Misalnya, kita sakit perut. Kita tahu kita sakit perut, tapi tidak tahu apa sebabnya. Kalau bayi, kita tahu dia nangis, tapi kita tidak tahu nangisnya kenapa.

Karenanya menjadi pintar adalah pilihan pertama. Kita perlu mengeksplorasi ranah baru dan memastikan kita tahu apa yang perlu kita tahu. Di sinilah fungsi dokter yang kadang kesannya sekunder menjadi penting: fungsi edukasi.

Sepenting apa? Saya ini punya buku tebal mahal berwarna berjudul Anti Panik: Mengasuh Bayi 0-3 Tahun. Ahli googling pula. Install aplikasi Alodokter. Punya temen dokter dan perawat. Tergabung berbagai grup WhatsApp. Tapi yang terjadi 1 bulan pertama ini tetep bikin stres. Ada aja kejadian yang membingungkan yang kalau di-googling aduuuh serem kali.

Kesimpulannya, menurut saya, pilih dokter spesialis anak nggak bisa asal jago, asal pinter, asal bergelar. Tapi kita perlu yang memang bener-bener komunikatif, edukatif, dan perhatian.

Daftar Dokter Spesialis Anak yang Saya Sudah Coba

Nah, kini sampai pada bagian yang Anda mungkin sudah tunggu-tunggu. Langsung aja ya bahas:

1) dr. Tania Paramita, SpA | RSIA Brawijaya Duren Tiga

Dokter ini yang membantu awal kelahiran anak saya. Profesional, caring. Anak saya begitu lahir punya masalah pernafasan dan perlu diinkubasi 1×24 jam. Sekarang sudah sehat, dan tentunya berkat penanganan yang tepat dari dr. Tania. Masih muda, antara 30-40 tahun sepertinya.

Orangnya ramah, peduli. Penjelasannya jelas, bisa diajak diskusi dan tidak pelit atau berprasangka dalam menjawab pertanyaan kita. Semangat edukasinya juga bagus. Karena sering menghadapi penyedia layanan yang tidak punya etos yang baik, menghadapi dr. Tania dan skuad di RSIA Duren Tiga rasanya menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Semua suportif, tidak ada kejutekan, semua mau bantu mau jawab. 

Edukasi awal bagi kondisi post-partum yaitu terkait ASI disampaikan dengan baik oleh dr. Tania. Proses pelekatan dibantu langsung, keluhan soal laktasi juga didengar dengan baik dan dijawab dengan menyenangkan. dr. Tania bersikap layaknya manusia, jadi memperlakukan orang lain seperti manusia juga.

RSIA Duren Tiga sendiri bisa dibilang RS menengah atas, kira2 SES A- atau B+ lah ya. Masih di bawah induknya Brawijaya pusat dan masih di bawah KMC. Tapi sudah cukup fancy. Pelayanannya sangat luar biasa. RS-nya juga bersih dan fasilitasnya memadai. Saya baru cek sekali ke dr. Tania dan waktu itu hampir tidak ada waktu antri karena begitu kosong langsung bisa masuk.

2) dr. Piprim B. Yanuarso, SpA (K) | Praktek pribadi di Kp. Tengah

Dokter ini sangat terkenal sebagai aktivis vaksin. Dia mendirikan Rumah Vaksin yang tersohor itu dan sudah ada banyak cabang. Usia 40-50 tahun sepertinya. Tidak bisa dibilang ramah, cukup teliti.

Waktu itu saya ke dr. Piprim karena anak saya sering muntah yang kadang warnanya ada kuningnya. Salah satu hasil penelusuran Google menunjukkan artikel sangat mengertikan terkait warna muntah tersebut makanya saya langsung cari dokter praktek dekat rumah.

Kesan pertama tidak terlalu oke. Pendapat saya dr. Piprim tipe dokter praktis dan berpengalaman yang cepat melakukan diagnosis dan cepat analisis. Sedikit bertanya, lebih cenderung menguji asumsi saja jadi kurang terasa berdialog. Tone-nya bisa dibilang galak, meskipun bukan yang terkesan “ah lo ganggu gue aja gini doang udah sana”, tapi memang kurang ramah aja.

Untuk Anda yang setuju dengan prinsip menjadi dokter spesialis anak seperti saya tulis di atas, dr. Piprim tidak cocok. Empatinya akan kurang terasa, begitu juga edukasinya. Kondisi kliniknya yang kecil tetapi sangat ramai berpengaruh besar. Waktu itu saya datang hari Sabtu yang ramai sekali hingga antrian sepertinya >25 nomer. Kondisi ini akan membuat dokter perlu praktis saya karena dikejar waktu. Sepertinya lagi, peran edukasi memang bukan ada pada beliau, tetapi dr. Elsa di klinik yang sama yang menangani soal konseling laktasi.

Klinik Rumah Vaksin sendiri cukup rapi karena baru dibangun. Parkir agak susah, tapi ada. Antrian banyak sehingga terlalu padat. Lebih baik cari tempat menunggu lain apabila sudah tidak dapat ruang di dalam atau teras. Yang luar biasa adalah tarifnya. Untuk konsul dengan dr. Piprim hanya dikenakan 120 ribu. Meski demikian, banyak orang bermobil juga yang datang.

3) dr. Syukriman Bustami, SpA | RS Hermina Jatinegara

Dokter ini kebetulan merupakan dokter saya waktu kecil. Dia tidak langsung saya juga. Bapak saya bilang awal mula jadi langganan dokter Syukriman adalah karena beliau waktu itu diminta menggantikan dokter langganan keluarga sebelumnya yaitu dr. Osrizal. dr. Os mungkin banyak yang tau ya karena tersohor sekali.

Tulisan ini dibuat setelah sangnya saya konsul dengan dr. Syukriman. Dan saya mau bilang kalau pengalaman siang tadi adalah luar biasa. Pengalaman itu yang membuat saya merumuskan prinsip dasar pilih dokter anak tadi. Masalah anak saya masih sama yaitu muntah. Malam ini pun masih muntah lumayan banyak. Tapi karena penjelasannya begitu bagus, begitu menyenangkan, saya bisa menahan kekhawatiran dan kepanikan saya saat si anak muntah banyak lagi.

Konsul dimulai dengan becandaan yang seru. Meskipun sudah senior (akhir 50 atau 60+), dr. Syukriman masih update dengan budaya populer kekinian. Nyambung ngobrolnya. Pertanyaannya tidak banyak tetapi tidak retoris. Khas dokter senior, dia cepat melakukan diagnosis dan lompat ke konklusi dan penjelasan. Untungnya, hampir semua benar. Jitu.

Dengan cepat dr. Syukriman langsung menjelaskan soal kenapa bayi muntah. Tidak cuma dengan ngomong di seberang meja, tetapi membawa anak saya ke kasur dan mempraktekkan penjelasannya. Dia paham betul kalau yang dibutuhkan adalah edukasi – apa-apa yang perlu diketahui supaya tidak panik. Dengan enteng dia bolak-balik si anak sambil memperagakan beberapa metode penanganan. Dalam penjelasannya juga disisipkan ilmu-ilmu biologinya mengenai bagian organ dalam tubuh, mekanismenya, serta mengapa ada muntah dan lain sebagainya.

Sesinya berlangsung panjang, lebih dari 20 menit saya rasa. Karena nyaman saya dan istri teringat dan bisa bertanya hal-hal mengganjal lain seperti kenapa kulitnya bercitra aneh. Saya menunjukkan foto dan beliau langsung paham serta menjelaskan dengan jelas soal apa masalahnya.

RS Hermina sendiri tersohor ya, termasuk di Jatinegara. Secara fasilitas cukup oke meskipun gedung tua. Harganya juga sedikit lebih murah dari RSIA Duren Tiga, tapi tentunya tidak bisa mengalahkan Klinik Rumah Vaksin hehe. Kebetulan saya tidak terlalu lama mengantri, mungkin karena memang tidak terlalu ramai.

 

Verdict 

Sejauh ini saya bisa bilang dr. Syukriman adalah yang paling oke. Yah 11-12 lah dengan dr. Tania. Eh ya, kenapa saya nggak ke dr. Tania lagi? Karena tengsin aja kalau dikira parnoan mulu, anaknya nggak kenapa-kenapa tapi lebay. Makanya memang kalau merawat bayi dan ke dokter itu kadang yang sakit bukan anaknya, tapi orangtuanya. Hehe.

Merawat anak memang bikin deg-degan, terutama buat saya. Karenanya selalu teredukasi itu penting. Saya termasuk yang nggak bisa kalau cuma baca, rasanya ada yang kurang. Ilmu yang harus dipelajari pun banyak sekali dan seperti nggak habis di masa 1 bulan pertama ini. Jadi mendapatkan dokter edukatif itu sangat-sangat esensial.

Kedepannya sambil vaksin-vaksinan saya akan mengeksplorasi lagi beberapa dokter. Di antaranya adalah: (a) dr. Arifianto yang ternyata terkenal juga sebagai aktivis medsos. Kebetulan buka praktek pribadi di dekat rumah juga. (b) dr. Purnamawati yang terkenal sebagai dokter senior dan ex-konselor WHO. Entah baca mana kalau nggak salah beliau ada spesialis di gastro, cocok sama anak yang muntah mulu kayaknya. (c) dr. Osrizal ya yang juga legend dan RS prakteknya deket rumah pula.

Hebat kan lingkungan rumah saya, penuh dokter anak terkenal. Area rumah saya tak lain dan tak bukan adalah Condet. Maka tinggal lah di Condet. Hehe

 

 

 

 

Advertisements

Rugi Investasi di Vestifarm (Emang Guenya Nggak Hoki) – Growpal, iGrow, dan Lainnya

Disclaimer: Judul di atas merupakan saran seorang teman juragan timur tengah yang udah tajir mampus tapi investasinya untung di Vestifarm.

Yap, tulisan ini ditargetkan untuk SEO. Saya coba googling keyword yang ada di judul artikel ini dan tidak menemukan hasil yang memuaskan di SERP Google. Saya juga sempat coba keyword yang sama untuk Growpal dan tidak ada juga. Sepertinya jarang yang mau repot review ya? Padahal ini penting sekali.

Tapi artikel ini memang bukan hanya clickbait. Saya memang investor di Vestifarm, dan memang rugi. Di bawah ini saya mau sharing pengalaman rugi saya tersebut dan hal penting yang menurut saya harus diperhatikan bagi siapapun yang berinvestasi di bidang agrikultur yang saat ini penuh bunga-bunga retorika anak muda kekinian.

Dan bunga-bunga itu melahirkan fans berat para crowdfunding platform. Nah sebelum Anda terbawa suasana tolong lanjut baca dengan pemahaman ini ya: Yes, namanya investasi pasti bisa rugi. Mau Vesti, mau xGrow, GrowBro, saham, real estate, dan lain2, kemungkinan rugi itu pasti ada.

Yang penting dari tulisan saya adalah untuk menjadi lampu kuning saja di tengah gairah investasi kekinian terutama yang berpusat di bidang agroindustri. Ini pengingat buat Anda bahwa industri ini sejak awal penuh resiko tidak seperti copywrite manis para penjaja platform. Dan karenanya kalau Anda rugi, Anda jangan ilfil dan sensi dengan agroindustri. Industri ini tetap penting, tetapi diisi orang baik dan bersemangat. Kita harus dukung supaya maju terus. Takbir! Syahadat!

Jadi Ceritanya..

Saya investasi di Vestifarm tahun 2017 ini, tepatnya pada waktu jelang idul adha. Investasi sapi jelang idul adha memang menggiurkan karena harga sapi cenderung naik dan permintaan pasti besar. Akan tetapi, waktu itu Vestifarm gagal untuk: (1) menjaga survival rate dari sapi; dan yang utama (2) menjual sapi tepat waktu di harga yang tepat.

Walhasil, investasi saya rugi. Agak bete sih karena banyak teman lain yang tanpa platform alias ke teman sendiri saja pada untung. Lalu ada satu hal yang mungkin bagus, tetapi entah kenapa bikin kesel: waktu ada kematian sapi, mereka memberikan “asuransi” yang sayangnya diberikan dalam bentuk saldo yang hanya bisa digunakan untuk investasi lagi di Vestifarm. Padahal saya sudah tidak percaya lagi pada Vestifarm waktu itu. (Salah satu email cantique-nya ada di comment)

Ini saya lho, belum tentu Anda, belum tentu yang lainnya. Katanya sih sukses. Klaim mereka salah satu investasi udang mereka benar-benar mencapai ROI >30%. Dahsyat kan, hehe.

Udah segitu aja tentang Vestifarm. Dikit ya? Jahat ya judulnya hehe.

Oke saya tambahkan satu pengalaman lagi yaitu investasi di petani ikan nila di platform yang saya nggak tega untuk sebut. Di awal investasi, platform tersebut menjanjikan periode yang cuma 6 bulan. Akan tetapi menjelang 6 bulan tiba-tiba ada perpanjangan kontrak 6 bulan lagi. Tahu nggak, setelahnya sampai sekarang pun masih ada uang saya yang nyangkut meskipun sudah ada pengembalian parsial sekitar 50%. Kabarnya investasinya rugi padahal janji ROI-nya sebelum ini di atas 20%. Petaninya sudah sukses belasan tahun, domisilinya di sentra nila terbesar di Jawa Tengah yang punya opsi ‘ekspor’ ikan ke Papua yang dihargai hingga di atas Rp 100 ribu/kg. Kurang apa lagi coba? KURANG HOKI LAH.

Pengalaman kurang enak ini sebenarnya tidak segitu nggak enaknya, karena saya sendiri bekerja di industri makhluk hidup. Saya paham resikonya. Dan karena itu untuk mengingatkan para penikmat gairah investasi di agroindustri, berikut beberapa hal yang saya anggap penting untuk diperhatikan saat ingin berinvestasi:

  1. Jangan kayak saya yang nekat aja investasi karena saya percaya aja sama anak-anak rohis. Nggak bakal bawa lari uang lah minimal. Hahaha. It’s a joke.
  2. Investasi di agro memang menarik. Ada rasa kepuasan tersendiri karena merasa melakukan ‘impact investment’. Tapi eh nanti dulu. Impact seperti apa sih? Perlu diketahui terlepas dari embel-embel ‘social blabla’ platform tersebut tidak sebegitu sosialnya. Memang mereka membantu menggairahkan agroindustri, tetapi just a fraction dibandingkan modal raksasa dari pemain-pemain utama di agroindustri.Dan terutama klaim soal social impact. Apa iya benar-benar membantu petani dan ekonomi rural? Cek dulu. iGrow misal menanam di kebun yang sudah profesional, bukan fokus pada petani kecil (setau saya dulu begitu, ada update?). Vestifarm di awal punya kandang sendiri, dan saya kurang paham sekarang mereka pakai petani mana, dan kelihatannya bukan petani kecil. Growpal jelas terlibat di petani-petani besar (meskipun Growpal tidak terlalu klaim soal impact kalau tidak salah). Jadi investasi kita membesarkan para pemain yang ada, tidak langsung membantu perekonomian rural atau petani kecil yang kita tahu hidupnya kurang sejahtera.
  3. Dan poin ini yang paling penting. Seperti saya sebutkan di atas, ini industri makhluk hidup. Makhluk hidup sesuai namanya, bisa mati. Selain mati, makhluk hidup juga merupakan komoditas yang terus berproses dan karenanya mengandung beberapa risiko ekstra. Beda dengan emas misalnya yang sudah jadi emas dari sononya, makhluk hidup harus tumbuh dulu untuk memiliki nilai yang dapat menguntungkan. Dalam proses tumbuh itulah mereka bisa mati, bisa sehat, atau bisa kuntet alias nggak tumbuh-tumbuh, bisa mismanajemen dan boros pakan, bisa hilang dicuri orang, dan lain sebagainya. Jadi it’s very risky.Di perikanan, tambak udang bisa rugi milyaran saat virus tiba-tiba masuk ke tambak dan membunuh para udang. Di ikan nila juga ketika waduk terjadi upwelling. Di perikanan lele, bisa juga uangnya ditilep sama pegawainya atau ikannya dicuri. Menurut saya adalah bullshit untuk coba-coba mengatakan investasi di industri makhluk hidup adalah low risk. Bahkan untuk sewa lahan sekalipun. Memang benar mungkin lahan lebih aman karena pengguna lahan bisa berganti ketika yang satu bangkrut. Tapi siapa bilang lahan pun awet. Di pertanian, lahan bisa dianggap  tidak subur lagi setelah lama digunakan dan ada mismanajemen yang merusak unsur mikro makro dalam tanah. Di tambak udang, tidak selamanya kondisi air dan kolam akan bagus terutama bila biosekuriti tambak tidak maksimal. Kualitas air laut di sekitar akan menurun untuk tambak yang optimal. Dan sekalinya ada wabah seperti WS, WFD, maka petambak lain sungkan mau menggunakan tambak itu lagi dan bahkan area sekitarnya. Ngeri kan?
  4. Di industri ini pula pengelola makhluk hidup tersebut menjadi faktor kunci. Tidak hanya menjaga mereka supaya tidak mati, tetapi menjaga mereka tumbuh optimal. Margin untung-untung yang bisa didapatkan sangat berpengaruh dari faktor ini. Pertama, bagaimana mereka efektif dan efisien dalam pengelolaan. Misal, dalam pemberian pakan yang optimal sehingga makhluk hidup tumbuh cepat, gemuk, dan bisa segera layak jual. Kedua, bagaimana mereka menguasai pasar bagi komoditas yang mereka kelola. Harga bahan pangan ini cenderung fluktuatif, elastis. Beda tempat beda harga, beda ukuran beda harga. Ada krisis harga bisa turun. Ada banjir produk dari tempat lain, harga drop lagi. Ditahan dulu supaya tunggu harga naik, eh mereka harus dikasih makan dan harus tinggal di lahan yang berarti biaya akan keluar terus. Bagaimana lagi kalau mentrinya lagi jail impor. Impor lele misal? Kompleks kan?

 

Jadi, memang menggiurkan tawaran-tawaran itu. ROI besar, temponya cepat. Wah sekali. Tapi nggak sesederhana itu. There’s a huge risk. Saya pribadi selain rugi di Vestifarm juga rugi di platform lain yang menawarkan investasi di budidaya air tawar (yang tadi saya ceritakan). Sampai sekarang buah2an saya di iGrow juga belum panen setelah sekitar 2 tahun. Jadi masih belum pasti apa saya untung apa tidak.

Yang jelas, tetap hati-hati, tetap kritis. Jangan terlalu happy dengan kata-kata manis anak-anak muda kota yang sebenarnya baru mulai kenalan juga dengan seluk beluk industri 😀 Coba cek aja para founder platform tersebut apa memang sudah lama di industri? Kalau sudah, itu bisa jadi poin bagus untuk mempertimbangkan investasi di platform tersebut. Bisa jadi mereka memang paham.

Beberapa tips yang bisa diperhatikan untuk investasi di agro, khususnya perikanan:
1. Apakah komoditasnya punya nilai ekspor bagus? Apabila iya, maka akan cenderung aman.

2. Apakah komoditasnya termasuk ke dalam pengelolaan profesional? Karena kalau tidak, ada beberapa resiko seperti panennya buruk atau kondisinya jelek sehingga tidak mendapat izin perdagangan dari badan karantina. Contoh: Udang vannamei profesional, udang windu sering tradisional.

3. Apakah platform yang menjajakan produk akrab memiliki tim di lapangan yang memverifikasi sendiri dari waktu ke waktu pihak yang diinvestasikan (investee)

4. Apakah wilayah dimana budidaya berlangsung aman dari segi lingkungan, masih menjadi tren lokasi budidaya, dan termasuk aman dari resiko bencana alam. Contoh: Budidaya udang di Jateng Utara tidak seramai Jawa Barat

Itu sedikit review saya. Mohon kalau ada pihak Vestifarm, iGrow, atau platform lain yang membaca berkenan untuk comment apabila ada salah, atau ada data pembanding. Saya siap merevisi karena artikel ini tujuannya baik.

Buat yang membaca ini juga harap memperhatikan kolom komen. Perlu saya tekankan juga saya hanya salah satu investor dari sekian banyak opportunity yang ditawarkan para platform tersebut. Jelas pasti ada produk berbeda, di waktu berbeda, dengan hasil yang berbeda pula. Yang ingin saya sampaikan sekali lagi hanya: hati-hati, jangan overhappy, selalu berinvestasi dengan terukur.

 

Update (Januari 2019):

Karena banyak yang mengusulkan di kolom komentar untuk dibuatkan wadah dimana sesama investor bisa saling berdiskusi, saya berinisiatif untuk membuat grup WhatsApp. Silakan daftar dulu di sini: https://goo.gl/forms/72OsZ6lTMde84YkO2

Thanks, sampai bertemu di grup!

 

Update (Mei 2018):

Eh, gmana kalau kita rame-rame sharing hasil investasi kita di platform-platform tersebut?

Mungkin bisa mulai di kolom komen. Share aja: Platform, Komoditas, Judul Investasi, Janji Siklus – Realisasi, Janji ROI – Realisasi

Jadi kita bisa sama-sama analisis platform mana yang oke dan seberapa akurat janji mereka alias estimasi mereka sendiri terhadap produk-produk finansialnya.

Contoh:

iGrowfarm, Investasi Vannamei Pacitan II, 6 bulan – 8 bulan, 25% – 12.5%

Kumpulan Testimoni:

– iGrow | Akar Wangi, 15%, berhenti dan modal kembali (termasuk info invest pisang)

– Vestifarm | Udang, +3% karena ditanggulangi platform | Udang, rugi 21% karena tidak ditanggung

Ayam Geprek yang Asli itu dari Jogja

Tulisan ini hanya sebagai pengingat kalau ayam geprek yang asli itu ada di Jogja.

Sayangnya tulisan ini dibuat di tahun 2017. Tetapi apabila belum ada tulisan lain yang menyatakan asal usul, biarkan tulisan ini menjadi catatan sejarah di masa depan kalau:

AYAM GEPREK ASLI ITU DARI JOGJA.

Ini kesaksian saya sendiri, penikmat ayam geprek sejak tahun 2009. Alkisah rekan saya dari jurusan HI UGM angkatan 2007 mengajak menikmati kuliner tersebut yang ada di daerah Deresan. Namanya Bu Rum, Ayam Geprek Bu Rum. Lokasinya di pinggir jalan, menggunakan tenda, di sebuah wilayah semi-komplek yang sepi. Ayam geprek asli dari Bu Rum adalah ayam goreng tepung yang digeprek di atas cobek dan dicampur dengan cabai, garam serta terasi dan tomat kalau mau. Orang bisa bebas meminta jumlah cabai untuk digeprek bersama ayam. Saya hanya bisa sekitar 10. Istri saya sudah biasa di atas 50. Sambil mengantri ke penggeprekan, kita bisa mengambil nasi dan memilih sayur dari etalase. Ayam pun kita pilih sendiri, untuk kemudian disetorkan ke tukang geprek, dan kemudian digeprek sesuai selera.

Saya lupa di tahun berapa Bu Rum mulai buka cabang. Salah satunya di foodcourt sebelah Sanata Dharma. Kemudian kalau tidak salah ada di satu-dua tempat lagi. Perlu diketahui, Bu Rum berbeda dengan Mas Kobis (Mas Kobis asli ada di sebelah FT UNY, jangan tertipu). Setelah buka cabang di foodcourt, saya cukup sering berbelanja geprek di situ. Lebih luas, agak lebih sepi.

Itulah ceritanya ayam geprek.

Jangan tertipu. Bahasa geprek sendiri jawa kan? Jangan tertipu para artis pula. Hargai karya cipta.

Nayonaise

Cita-citaku dari dulu begitu: menggendongmu keliling rumah, masak mie, dan peluk2an bareng lama-lama. Tapi kamu sekarang sangat berat, dan aku kekurangan otot. Berguling saja mungkin cukup sampai suatu saat kamu berhasil diet, dan aku berhasil tambah kuat.

Kamu tau apa yang aku paling suka darimu? Kamu yang apa adanya, bocahmu itu. Makanya aku kadang cemburu kalau di luar kamu pun bermanja-manja. Yang itu buatku aja.

Kita mungkin tak akan pernah dewasa selama kita masih berdua. Tidak dewasa di dunia yang kejam ini berbahaya. Dunia yang semakin tua, makin cranky, suka atur-atur, dan kolot. Tapi biarlah mereka menua, kita memuda. Sampai usia tua, sampai keriput, kita akan tetap tertawa berguling di kasur, merebus mie, menonton, dan insyaAllah aku (akan) masih kuat menggendongmu. Biar yang lain menguasai dunia, bagi kita yang paling penting kita kuasai kasur empuk kita. Aku kamu, dan nanti mereka yang lucu. Di kamar kita, kerajaan kita.

Selamat 1 tahun Nayonaise-ku.

Saya Pun Dulu Begitu

Ada beberapa daftar hal yang saya rasa wajib diajarkan ke anak-anak saya nanti. Akhir tahun ini daftar tersebut bertambah satu hal: sedikit-banyak, apapun yang kau lakukan akan kembali padamu dengan berbagai cara, dan itu hampir pasti.

Selama 2015-2016, secara hitungan kasar saya pernah berada di setidaknya 6 perusahaan. Memang seru sekali petualangan di masa itu. Ada perusahaan yang cuma 2 bulan saya bergabung lalu resign. Ada perusahaan yang saya ikut bangun selama kurang lebih 3 tahun lalu saya tinggal. Macam-macam memang. Masing-masing tentunya punya rasa lekat tersendiri.

Ada satu perusahaan yang dengan hanya bertiga saya dan tim menangani perusahaan besar. Sangat exhaustive, berat, dan deg-degan. Karena satu dan lain hal setelah hanya beberapa bulan saya memutuskan resign saja. Tim yang mulai kompak saya tinggalkan dan semua saran untuk tidak pindah kantor saya tolak, termasuk saran dari rekan terdekat saya di perusahaan tersebut. Saya katakan: buat saya keputusan sudah bulat, sudah saya ucap. Saya tidak boleh menarik apa yang sudah saya ucap. I am an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan saya ada yang mengatakan hal yang sama ke saya.

Lalu kemudian ada satu perusahaan yang CEO-nya begitu baik. Dia begitu royal membagi ilmu dan begitu percaya memberikan saya berbagai tanggungjawab besar. Tidak hanya itu, dia memproyeksikan karir panjang bagi saya di perusahaannya. Kalau saya pernah punya mentor dalam hidup saya akan bilang mentor saya dia. Dia mengajarkan hal-hal dasar: attitude, mindset kerja, sikap profesional, softskill, mentalitas, dan hal-hal bermanfaat lainnya. Karena satu dan lain hal saya minta resign untuk pindah ke perusahaan yang menurut saya lebih damai. Segala obrol rayu saya tolak, begitu juga saran dari rekan-rekan lain yang saya curhatkan. I want to live in peace, I want to be an idealist.

Tahu tidak, guys, di tahun ini rekan yang saya anggap “anak didik” sendiri melakukan hal yang sama ke saya.

Tahun ini semua berbalik dan menyisakan sedikit tanya: Apa sudah semua? Apa sudah lunas?

Pada mereka yang lewat dalam hidup kita, kita memang akan selalu berkaca. Orang-orang sering kali memang hanya refleksi dari apa yang kita lakukan sendiri. Dari mereka kita ambil sejumput pesan. Dan kita berikan hal yang sama. Kita saling menatap, saling bercermin.

….

Untuk mereka yang pergi saya berikan lagu ini. Kebetulan lagu ini dinyanyikan seorang pengamen ketika saya merenung sambil menanti travel untuk pulang dari Bandung. Tak selalu tapi bisa, dunia profesional pun menjadi dunia yang romantis.

“Namun bila kau ingin sendiri, cepat-cepatlah sampaikan kepadaku. Agar ku tak berharap dan buatmu bersedih..”